Ain Ni Ain Jadi Kekuatan Masyarakat Kei Hadapi Bencana

  • 07 Agt 2026 15:45 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Nilai budaya Ain Ni Ain menjadi modal sosial penting dalam memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana di Kabupaten Maluku Tenggara. Semangat persaudaraan yang telah hidup dalam masyarakat Kei itu diharapkan mampu menjadi landasan dalam membangun Desa Tangguh Bencana (Destana).

Pesan tersebut disampaikan Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, dalam kegiatan pembentukan Desa Tangguh Bencana di Ohoi Ohoiel, Kecamatan Kei Besar, Kamis (6/8/2026). Ancaman gempa bumi, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga banjir merupakan risiko yang harus dihadapi bersama oleh masyarakat kepulauan.

"Kita memiliki warisan budaya yang sangat luhur, yaitu falsafah Ain Ni Ain, yang berarti kita semua adalah saudara. Nilai ini mengajarkan kita untuk saling menjaga, saling membantu, dan saling menguatkan," kata Bupati Thaher.

Thaher mengatakan, bencana tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun dampaknya dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, serta kemampuan untuk bertindak cepat saat situasi darurat terjadi.

Menurut Thaher, semangat Ain Ni Ain memiliki makna yang sangat relevan dalam penanggulangan bencana. Ketika bencana terjadi, keselamatan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada solidaritas dan kepedulian antarwarga.

"Ketika bencana datang, tidak ada seorang pun yang dapat menghadapi sendiri. Keselamatan hanya dapat diwujudkan apabila seluruh masyarakat bersatu, saling peduli, dan saling melindungi," ujarnya.

Karena itu, masyarakat Ohoi Ohoiel diajak menjadikan nilai-nilai persaudaraan sebagai kekuatan utama dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Budaya gotong royong dan saling membantu dapat mempercepat proses evakuasi, penyelamatan, hingga pemulihan pasca bencana.

Melalui pembentukan Destana, masyarakat juga akan dibekali berbagai kemampuan dasar kebencanaan. Mulai dari mengenali risiko, menyusun jalur evakuasi, membentuk relawan, hingga melakukan simulasi penanganan keadaan darurat.

Diharapkan pendekatan berbasis budaya lokal tersebut dapat memperkuat kesadaran masyarakat sekaligus menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga di wilayah kepulauan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....