Regenerasi Terputus, Budaya Kei Terancam Punah karena Merantau

  • 19 Sep 2026 19:27 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur - Proses regenerasi budaya Kei saat ini dinilai terputus. Hal ini disebabkan banyaknya generasi muda Kei yang merantau ke luar daerah untuk sekolah dan bekerja, sehingga pemahaman terhadap budaya sendiri semakin menipis. Kondisi ini membuat pewarisan nilai-nilai adat Larvul Ngabal terancam punah.

Penulis buku Larvul Ngabal, Efrem Silubun, mengatakan merantau memang menjadi kebutuhan ekonomi, namun di sisi lain menimbulkan kekosongan kader budaya di ohoi. Menurutnya, dahulu regenerasi terjadi secara alami di dalam rumah, di balai-balai adat, dan di setiap proses sasi, hingga upacara adat. Kini ruang itu kosong karena anak muda tidak lagi di kampung.

"Anak-anak kita lebih paham budaya luar daripada budaya Kei sendiri. Mereka tahu TikTok, tapi tidak tahu apa itu Larvul Ngabal, apa itu Ain Ni Ain, apa itu hukum adat yang mengatur hidup orang Kei," tegas Efrem.

Ia menjelaskan, Larvul Ngabal bukan sekedar hukum, tapi falsafah hidup yang menjaga keseimbangan manusia, alam, dan leluhur.

Efrem menambahkan, dampak paling nyata terlihat saat upacara adat berlangsung. Tidak ada lagi anak muda yang mampu menjadi pembawa cerita, juru bahasa adat, atau memahami makna dari setiap prosesi. Semua diambil alih oleh orang tua. Jika ini terus dibiarkan, dalam 10-20 tahun ke depan, Kei akan kehilangan identitasnya.

Untuk itu, ia mendorong adanya gerakan pulang kampung secara kultural. Menurutnya, pemerintah daerah dan dewan adat harus membuat kurikulum muatan lokal Larvul Ngabal yang wajib diajarkan di sekolah, serta memanfaatkan teknologi agar anak rantau tetap bisa belajar budaya dari jauh melalui digitalisasi naskah adat.

Regenerasi budaya tidak bisa menunggu anak muda pulang, tapi harus dijemput ke tempat mereka merantau. Jika tidak, Kei hanya akan menjadi nama di KTP, tapi jiwanya sudah hilang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....