Angka Putus Sekolah Tinggi, Mutu Pendidikan Maluku Tenggara Belum Tuntas
- 22 Jul 2026 18:01 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Angka anak putus sekolah di Kabupaten Maluku Tenggara masih tergolong tinggi, mencapai sekitar 4.000 orang. Angka tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang masih dihadapi pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas Pendidikan, Rabu (22/7/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara. Tingginya angka anak putus sekolah dinilai turut memengaruhi capaian kualitas pendidikan yang hingga kini masih belum sepenuhnya tuntas.
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudha Arif Hanoeboen, mengatakan rendahnya angka partisipasi sekolah menjadi salah satu indikator yang harus segera diperbaiki. Pasalnya semakin banyak anak yang meninggalkan bangku sekolah, semakin berat pula upaya meningkatkan mutu pendidikan daerah.
| Baca juga: Kreativitas Anak Cerdas Berkarakter Emas |
"Angka partisipasi sekolah kita, anak putus sekolah masih cukup tinggi, kurang lebih 4.000 anak. Semua itu yang menyebabkan kualitas pendidikan kita masih ada pada kategori belum tuntas," kata Raudha saat memberikan arahan kepada kepala sekolah dan pengelola pendidikan di Langgur.
Raudha menegaskan persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh Dinas Pendidikan sendiri. Sekolah sebagai ujung tombak layanan pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses belajar.
Karena itu, ia meminta seluruh satuan pendidikan memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Penanganan anak putus sekolah membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar hasilnya lebih maksimal.
"Siapa yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut? Kita yang menyelenggarakan fungsi pendidikan, Dinas Pendidikan dan sekolah yang bertanggung jawab. Maka kolaborasi dan sinergitas bersama itu harus tetap kita jaga sama-sama," ujarnya.
Raudha mengungkapkan di tengah tantangan tersebut, saat ini sekolah juga dihadapkan pada berbagai program baru yang harus dijalankan. Kondisi itu membuat tanggung jawab kepala sekolah dan tenaga pendidik semakin besar dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Dunia pendidikan terus berubah dan menuntut kemampuan beradaptasi. Karena itu, kepala sekolah dan guru tidak boleh berhenti belajar dan harus terus melakukan pembenahan di lingkungan masing-masing,” ucap Raudha.
Diharapkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dapat bergerak bersama untuk menekan angka putus sekolah di Maluku Tenggara. Upaya tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mutu pendidikan daerah dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....