Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Langgur Stabil, Cabai Rawit Tembus Rp250 Ribu
- 14 Apr 2026 14:02 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) mencatat harga kebutuhan pokok di Pasar Langgur masih relatif stabil berdasarkan hasil pemantauan lapangan pada Senin (13/4/2026). Namun, sejumlah komoditas hortikultura menunjukkan fluktuasi harga dan kualitas yang dipengaruhi distribusi serta ketersediaan stok.
Penyuluh Disperindag Malra, Theresia Yamrewav, saat ditemui tim RRI di ruang kerjanya mengatakan, hasil pantauan tim di Pasar Langgur menunjukkan tidak ada lonjakan signifikan, pada sebagian besar bahan pokok. Meski begitu, bawang merah mengalami kenaikan tipis dari Rp58.000 menjadi Rp60.000 per kilogram dalam satu hari.
“Pada dasarnya semua kebutuhan pokok harganya stabil, tapi ada kenaikan pada bawang merah dari Rp58.000 menjadi Rp60.000 per kilo,” kata Theresia.
Sementara itu, harga cabai keriting justru mengalami penurunan dari Rp150.000 menjadi Rp100.000 per kilogram, yang dipicu oleh penurunan kualitas barang di tingkat pedagang. Kondisi ini memperlihatkan faktor mutu produk masih sangat memengaruhi dinamika harga di pasar tradisional.
Berbeda dengan cabai keriting, harga cabai rawit masih berada pada level tinggi, khususnya jenis lokal yang dikenal masyarakat setempat sebagai cabai padi. Komoditas ini dijual dengan kisaran harga Rp200.000 hingga Rp250.000 per kilogram karena pasokan terbatas.
“Untuk cabai rawit lokal atau cabai padi, harganya masih tinggi di kisaran Rp200.000 sampai Rp250.000 per kilo,” ujarnya.
Di sisi lain, ketersediaan cabai jenis Ambon dilaporkan kosong di Pasar Langgur, yang mengindikasikan adanya gangguan distribusi maupun keterlambatan pasokan dari daerah pemasok. Kekosongan komoditas ini tidak hanya membatasi pilihan konsumen, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga pada jenis cabai lain akibat meningkatnya permintaan.
Theresia juga mengungkapkan adanya keluhan dari pedagang terkait distribusi barang dari luar daerah, terutama dari Surabaya dan Makassar, yang tidak dapat dimuat dalam kapal Pelni atau yang dikenal sebagai “kapal putih”. Kondisi ini dinilai menghambat kelancaran pasokan barang ke Maluku Tenggara dan berpotensi memengaruhi stabilitas harga di pasar lokal.
“Pedagang mengeluhkan barang pesanan dari Surabaya dan Makassar tidak bisa dimuat di kapal putih, sehingga kami berharap ke depan ada solusi agar kapal juga bisa mengangkut barang-barang kebutuhan pedagang,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....