Minyak Tanah Langka akibat Praktek Jual Kembali
- 02 Mar 2026 05:13 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Kelangkaan minyak tanah yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah bukan semata-mata disebabkan oleh berkurangnya pasokan, melainkan juga oleh praktik pembelian dalam jumlah besar oleh oknum tertentu.
Banyak masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak tanah, padahal distribusi sebenarnya masih berjalan. Persoalan muncul ketika sejumlah pembeli memanfaatkan celah sistem distribusi dengan membeli minyak tanah dari berbagai pangkalan, lalu menjualnya kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Akibatnya, masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan memperoleh kebutuhan pokok tersebut.
| Baca juga: Sejarah Singkat Hari Kebangkitan Nasional |
Para pemilik pangkalan minyak tanah sebenarnya telah menerapkan aturan pembatasan pembelian, yakni maksimal 10 liter untuk setiap keluarga. Kebijakan ini dibuat agar distribusi lebih merata dan semua warga mendapat bagian.
Namun, dalam praktiknya, pemilik pangkalan tidak mengetahui bahwa pembeli yang sama telah berkeliling ke beberapa pangkalan lain. Keterbatasan pengawasan membuat aturan ini mudah disiasati oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan pribadi.
Ibu Lisa, seorang warga Perumnas yang ditemui rri.co.id mengungkapkan berbagai trik yang dilakukan oleh para pembeli yang berniat menjual kembali minyak tanah.
Salah satunya dengan melibatkan beberapa anggota keluarga untuk ikut mengantri di pangkalan yang berbeda. Dengan cara ini, satu kelompok bisa mengumpulkan minyak tanah dalam jumlah besar tanpa melanggar aturan secara langsung di satu lokasi.
Praktik ini bukan hanya merugikan masyarakat kecil, tetapi juga menciptakan antrean panjang serta memicu kepanikan pembelian di tengah warga.
Situasi ini menunjukkan perlunya pengawasan distribusi yang lebih ketat serta kerja sama antara pemerintah, pemilik pangkalan, dan masyarakat.
Sistem pendataan pembeli atau penggunaan identitas tertentu dapat menjadi solusi untuk mencegah pembelian berulang di banyak pangkalan. Selain itu, kesadaran bersama juga sangat dibutuhkan agar kebutuhan energi rumah tangga tidak dijadikan ladang spekulasi keuntungan pribadi. Jika praktik penimbunan dan penjualan ulang terus dibiarkan, kelangkaan minyak tanah akan terus berulang dan masyarakat kecil akan selalu menjadi pihak yang paling dirugikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....