Sejarah Singkat Hari Kebangkitan Nasional

  • 19 Mei 2026 08:14 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Setiap tanggal 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebagai simbol lahirnya semangat persatuan dan nasionalisme seiring berdirinya organisasi Budi Utomo pada 1908. Namun, fajar pergerakan ini tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari penderitaan panjang rakyat akibat kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan kolonial Belanda sejak 1830. Sistem yang menguras kekayaan bumi Nusantara demi mengisi kas Belanda yang kosong itu memicu kritik keras dari kaum liberal, termasuk lewat novel legendaris Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker, yang mendesak kerajaan untuk melakukan balas budi.

Dikutip dari berbagai sumber, desakan tersebut akhirnya melahirkan kebijakan Politik Etis pada 17 September 1901 di bawah pemerintahan Ratu Wilhelmina, yang bertumpu pada tiga pilar: irigasi, transmigrasi, dan edukasi. Di antara ketiganya, program edukasi menjadi senjata makan tuan bagi penjajah karena berhasil melahirkan generasi baru bumiputra yang terpelajar. Akses pendidikan ini membuka cakrawala berpikir para pemuda mengenai konsep kesadaran berbangsa dan memicu lahirnya berbagai organisasi pergerakan modern di tanah air.

Salah satu motor utamanya adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo, yang pada 1907 berkeliling Jawa untuk menggalang dana pendidikan bagi pemuda cerdas yang kurang mampu. Gagasan ini disambut hangat oleh para mahasiswa kedokteran Jawa di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) Batavia. Melalui serangkaian diskusi intensif, seorang mahasiswa bernama Soetomo bersama rekan-rekannya sepakat mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908, sebuah organisasi moderat yang fokus pada kemajuan pengajaran dan kebudayaan.

Meski Budi Utomo lahir di awal abad ke-20, penetapan tanggal 20 Mei sebagai hari nasional baru resmi diputuskan empat dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1948 oleh Presiden Soekarno. Saat itu, Indonesia yang baru merdeka tengah diguncang krisis hebat akibat agresi militer Belanda serta ancaman perpecahan ideologi di dalam negeri. Atas usulan Ki Hadjar Dewantara, Soekarno menjadikan momentum berdirinya Budi Utomo sebagai simbol persatuan untuk merekatkan kembali solidaritas rakyat yang mulai terkoyak.

Kendati sempat menuai kritik karena dinilai terlalu berorientasi pada suku Jawa (Jawasentris) dan bersikap kooperatif dengan penjajah, Budi Utomo tetap diakui sebagai pelopor yang menginspirasi lahirnya gerakan radikal lain seperti Indische Partij dan Sarekat Islam. Kini, seabad lebih berlalu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan lagi sekadar romantisasi sejarah masa lalu. Momen tahunan ini terus dirawat sebagai pengingat bagi generasi modern untuk tetap bersatu, adaptif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan global yang kian dinamis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....