Kisah Pak Dahri, Penjual Sapu Lidi Keliling Demi Keluarga

  • 05 Mar 2026 14:09 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID,Buol - Di tengah teriknya matahari siang, suara penjual sapu lidi terdengar di sejumlah jalan di Buol. Suara itu berasal dari Pak Dahri, seorang lelaki paruh baya dengan pakaian yang tampak lusuh dan basah oleh keringat. Sambil memanggul beberapa ikat sapu lidi di bahunya, ia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota untuk menjajakan dagangannya kepada warga.

Saat ditemui reporter Radio Republik Indonesia di Jalan M.A. Tarungku, Kelurahan Kali, Pak Dahri tampak tetap melayani warga yang ingin membeli sapu lidi yang dibawanya. Di sela aktivitasnya, ia menuturkan bahwa dirinya berasal dari Makassar dan berjualan sapu lidi menjadi pekerjaan yang ia tekuni untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga serta biaya sekolah anak-anaknya di kampung halaman. Hasil dari berjualan ini juga ia kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Pak Dahri mengaku telah menekuni pekerjaan sebagai penjual sapu lidi keliling selama beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, ia bersama rekan-rekannya berjualan di Tolitoli, sementara di Buol ia baru sekitar dua hari mencoba peruntungan. Sapu lidi yang dijualnya pun sedikit berbeda dari biasanya, karena telah mendapat sentuhan lebih modern pada bagian gagang maupun pengikatnya. Satu sapu dijual dengan harga antara Rp 10 ribu hingga Rp15 ribu.

Di bulan Ramadhan ini, Pak Dahri tetap berjualan dengan berjalan kaki dari gang ke gang, bahkan terkadang mangkal di pasar. Ia mengaku harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun permintaan sapu lidi saat ini dirasakan sedikit menurun. Dalam kesehariannya, ia juga tetap berusaha menjalankan ibadah puasa dan menyempatkan diri menunaikan shalat di masjid yang ia lewati ketika waktu salat tiba. Namun pada hari itu, karena cuaca yang cukup terik dan perjalanan yang panjang, ia terpaksa membatalkan puasanya.

"Iya hari ini puasa batal ,tadi sekitar jam satu sudah tidak tahan ,kerongkongan terasa mau pecah,tapi besok dan seterusnya puasa harus berjalan baik"Tutur Dahri.

Meski hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp1.500 untuk setiap sapu yang terjual, Pak Dahri mengaku tetap bersyukur dengan pekerjaan yang dijalaninya. Baginya, yang terpenting adalah bekerja dengan cara yang halal. Ia juga meyakini bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah SWT, sehingga ia terus berusaha dan berdoa agar dagangannya cepat terjual dan ia dapat pulang ke Makassar untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta.

"Lebaran nanti upayaan pulang pak ,untuk lebaran bersama keluarga ,doakan sapu cepat laku terjual semuanya ,agar ada uang tiket dan uang untuk lebaran nanti"Harapnya

Kisah perjuangan Pak Dahri ini menjadi gambaran keteguhan seorang pencari nafkah yang tetap tabah dan ikhlas menjalani pekerjaannya demi keluarga. Dengan keyakinan bahwa rezeki telah disediakan oleh Tuhan, ia terus melangkah menyusuri jalan-jalan kota sambil berharap dagangannya laku terjual.

Rekomendasi Berita