Pamoneang Gulra Elram, Warisan Manis dari Dapur Tolitoli

  • 26 Nov 2025 21:31 WIB
  •  Toli Toli

KBRN, Tolitoli: Aroma wangi santan dan gula merah menyeruak dari dapur kecil di pinggiran Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada sore yang lembab itu. Di atas kukusan tua yang mengepulkan uap perlahan, cetakan-cetakan mungil berwarna coklat keemasan mulai matang. Dari dapur sederhana inilah warisan kuliner lokal bernama Pamoneang Gulra Elram atau yang lebih dikenal sebagai kue talam gula merah terus hidup di tengah masyarakat.

Bagi warga Tolitoli, kue ini bukan sekadar camilan tradisional, melainkan simbol kehangatan keluarga dan penghormatan kepada leluhur. “Pamoneang” berarti sesuatu yang dikukus dan lembut, sementara “Gulra Elram” merujuk pada gula merah, bahan utama yang memberi rasa manis alami sekaligus warna khas pada kue tersebut. Nama dan rasanya mencerminkan karakter masyarakat Tolitoli yang hangat, sederhana, namun penuh makna.

Kue Pamoneang Gulra Elram telah lama hadir dalam berbagai acara adat, hajatan keluarga, hingga perayaan keagamaan. Meski modernisasi merambah ke pelosok daerah, aroma kue ini masih sering tercium dari dapur rumah-rumah tua di pesisir. Di pasar tradisional, kue ini dijual dengan bungkus daun pisang sederhana, namun pesonanya tak pernah pudar.

Talam gula merah khas Tolitoli memiliki ciri berbeda dibandingkan daerah lain: penggunaan santan segar dari kelapa kampung dan gula merah lokal yang aromanya lebih pekat. Teksturnya sedikit lebih padat tetapi tetap lembut, dengan perpaduan gurih dan manis yang harmonis.

Pembuatan kue ini merupakan ritual turun-temurun. Santan kental direbus bersama gula merah, sedikit gula pasir, daun pandan, dan garam. Setelah hangat, campuran ini dicampur dengan tepung beras dan tepung tapioka, kemudian dikukus dalam cetakan kecil. Saat kukusan dibuka, aroma hangat gula merah menyebar memenuhi ruangan, memunculkan nostalgia masa kecil bagi banyak orang Tolitoli.

“Kue Pamoneang Gulra Elram ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kenangan dan kebersamaan keluarga. Setiap langkah pembuatannya mengingatkan saya pada masakan ibu dan suasana rumah dulu,” ujar salah satu warga pembuat kue tradisional, Nurmala.

Di tengah gempuran jajanan modern, kue ini justru kembali mendapat perhatian baru. Generasi muda Tolitoli mulai memperkenalkannya melalui media sosial dan berbagai festival kuliner. Setiap potongnya membawa cerita tentang kearifan lokal, kesederhanaan, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.

Seperti secangkir teh hangat di sore hari, Pamoneang Gulra Elram mengajarkan bahwa kebahagiaan sering datang dari hal-hal sederhana. Dalam setiap gigitan tersimpan rasa syukur, ingatan, dan keindahan tradisi yang tak lekang oleh waktu.

Rekomendasi Berita