Flexing Tak Selalu Kaya, Bisa Jadi Strategi Penipuan
- 31 Des 2025 11:46 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli : Media sosial kini memudahkan setiap orang membagikan aktivitas hingga pencapaian hidupnya. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena flexing atau pamer kekayaan yang kerap ditemui di berbagai platform digital. Mulai dari koleksi barang mewah, kendaraan, hingga gaya hidup serba glamor, flexing sering dijadikan konten untuk menarik perhatian publik.
Pakar bisnis Rhenald Kasali menyampaikan, orang kaya yang sesungguhnya justru tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dalam podcast YouTube bersama Deddy Corbuzier bertajuk “Penipunya Semakin Muda, Charming dan Branded”, Rhenald menyebut pepatah “poverty screams, but wealth whispers”, yang berarti kemiskinan berteriak, sementara kekayaan justru berbisik.
Menurutnya, semakin kaya seseorang, biasanya semakin menginginkan privasi dan tidak ingin menonjolkan diri. Karena itu, perilaku flexing tidak selalu mencerminkan kekayaan yang sesungguhnya, melainkan bisa menjadi strategi marketing untuk menarik perhatian calon konsumen.
Dalam podcast tersebut, Rhenald juga mengungkap sejumlah ciri orang yang gemar flexing dan berpotensi melakukan penipuan, di antaranya sering membicarakan uang dan harta, sulit dipercaya, kurang empati, bermuka dua, berpenampilan sangat menarik dengan barang bermerek, serta memiliki sifat narsistik dan senang dipuji sebagai orang kaya.
Rhenald menegaskan, tidak semua pelaku flexing adalah penipu. Namun, flexing kerap hanya memberi kesan manis di awal, sementara di akhirnya justru merugikan konsumen. Ia menilai flexing bersifat win–lose, berbeda dengan konsep pemasaran yang seharusnya mengedepankan kepuasan pelanggan dan bersifat win–win solution.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih kritis dan waspada terhadap konten flexing di media sosial, terutama yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.