Prof. Leontine Visser, 45 Tahun Pengabdian untuk Sahu
- 21 Jan 2026 08:14 WIB
- Ternate
- Tak banyak yang tahu bahwa di bulan Januari ini, Maluku Utara khususnya masyarakat Sahu kedatangan seorang tamu spesial. Beliau bernama Prof. Leontine E. Visser yang telah 45 tahun hidupnya dihabiskan untuk mengabdi pada penelitian kebudayaan dan sosial Sahu.
Prof. Leontine E. Visser merupakan Emeritus Professor dari Wageningen University di negeri Belanda. Perkenalannya dengan Sahu dimulai sejak tahun 1979 yang meneliti untuk disertasinya di Universitas Leiden kala itu.
Kedekatannya dengan subjek penelitiannya menjadikan dirinya melebur dalam kehidupan masyarakat Sahu. Tak hanya itu Ia kemudian menjadi bagian integral di antara masyarakat Sahu, khususnya Desa Awer.
Ia melakukan penelitian lebih menitikberatkan kepada pertanian padi ladang masyarakat Sahu yang sangat unik dan secara implisit menggambarkan identitas pedesaan di Maluku Utara sebelum perkenalannya dengan tanaman keras dan komersial seperti kelapa, cengkih, pala yang mulai diintroduksikan kembali sejak akhir abad ke-19 dengan komersialisasi kelapa.
Pertanian padi ladang menggambarkan subsistensi masyarakat pedesaan, yang dalam banyak aspek sangat berpengaruh hingga kepada organisasi dan sistem sosial. Hingga berpengaruh kepada aspek sosial lainnya seperti sistem kekerabatan, pola pemukiman, dan lain-lain.
Dari karya penelitian dialah, sistem pertanian padi ladang tradisional beserta pesta panen padi yang selama ini hanya dapat disaksikan melalui tumpukan dokumen berbahasa Belanda di arsip-arsip masa kolonial dapat tervisualisasikan. Pesta panen padi Sahu di awal tahun 1980an di mana tradisionalis masih melingkupi dunia pedesaan di Maluku Utara kini bahkan dapat diakses di media sosial youtube.
Tak hanya itu, Prof. Leontine juga merupakan salah seorang inisiator awal dalam penyusunan kamus bahasa tradisional Maluku Utara. Yang dalam hal ini bahasa Sahu, yang kemudian diinterpretasikan ke dalam bahasa Inggris.
Di usianya yang kian senja, Prof. Leontine menyaksikan berbagai perubahan selama 45 tahun perjalan historis. Tudak hanya di Sahu semata, melainkan di Maluku Utara secara keseluruhan.
Sejak tradisionalitas dan ketertinggalan akses pembangunan di masa orde baru hingga dinamika perubahan di era pemekaran otonomi daerah. Berbagai perubahan baik secara fisik maupun sosial, Ia coba cerna sebagai suatu proses historis di mana masyarakat bergerak melanjutkan progres peradaban.
Meskipun dalam pandangan masyarakat awam, Ia mungkin dianggap sebagai orang asing, namun dedikasinya ditunjukan dengan tak lelah mendorong generasi muda Sahu untuk senantiasa bukan hanya untuk melestarikan bahasa Sahu. Tetapi lebih dari itu, Ia sekaligus mengingatkan agar kita tidak boleh melupakan dan melestarikan identitas kultural.
Kini di usianya yang tidak lagi muda, berbagai karya penelitiannya bukan didedikasikan untuk dirinya, tetapi bagi masyarakat Sahu agar kepingan memori itu dapat terdokumentasikan dan dipelajari agar tidak punah. Tidak perlu ada simposium megah atau seremonial kedudukannya dengan kapasitas akademisnya, Ia lebih memilih untuk memberikan dan mengajarkan ke kampung-kampung, duduk di kursi bambu rumah sasadu dengan dikelilingi orang Sahu yang sedang bersantai dengan rokok dan kopi hitam dalam obrolan santai yang penuh senda gurau dan keakraban.
Sudah tak terhitung berapa puluh kali perjalanan Prof. Leontine yang secara khusus melaksanakan perjalanan ke Maluku Utara, khususnya Sahu. Kecintaan dan dedikasinya inilah yang menjadikan Maluku Utara, khususnya Sahu begitu beruntung dicintai oleh sosoknya.
Terima kasih Prof. Leontine Visser atas pengabdiannya yang tak terkira selama ini bagi masyarakat Maluku Utara. Salam sayang dari kami anak-anak Maluku Utara untuk Mama Ani, Prof Leontine E. Visser.