Kisah Fragil Vanisya, Perempuan di Balik Deru Mesin Tambang

  • 08 Mar 2026 09:02 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Halmahera Tengah - Di momentum Hari Perempuan Internasional 2026 yang mengusung tema “Give to Gain”, perjalanan Fragil Vanisya menjadi pengingat bahwa perempuan mampu hadir dan bertumbuh di ruang mana pun, bahkan di industri yang dikenal keras sekalipun. Di balik deru mesin tambang, ada perempuan-perempuan muda yang terus bertahan dan menemukan jati diri.

Melalui perjalanannya, Fragil membawa empati dan ketangguhan. Ia adalah potret harapan bahwa perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk berkembang serta berani mengejar impian mereka.

Langkah Tak Terduga di Dunia Tambang

Perjalanan jauh dari Mojokerto, Jawa Timur, menuju kawasan industri di Halmahera Tengah bukanlah rencana hidup yang pernah dibayangkan Fragil. Namun, langkah itulah yang justru mengubah arah hidupnya.

Di tengah industri pertambangan yang identik dengan dunia laki-laki, perempuan 23 tahun ini memilih bertahan. Sejak September 2023, ia bekerja sebagai penerjemah di salah satu subkontraktor di kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), yakni PT Ruby Internasional Mining (RIM).

Sebagai penerjemah, Nicha sapaan akrab Fragil, menjembatani komunikasi antara operator lapangan yang mayoritas pekerja lokal dengan atasan warga negara asing asal Tiongkok, agar arahan dan instruksi kerja dapat dipahami dengan baik. “Biasanya ada arahan dari atasan China lalu saya sampaikan kepada pekerja dalam bahasa Indonesia. Tapi kadang mereka menolak atau marah. Dalam situasi seperti itu saya harus belajar tetap sabar dan netral,” ujar Nicha.

Bertahan di Dunia ‘Laki-Laki’

Memasuki tahun ketiga bekerja di sektor mining, Nicha merasakan langsung tantangan sebagai perempuan di lingkungan kerja yang mayoritas laki-laki. Ia harus beradaptasi dengan komunikasi yang tegas, ritme kerja lapangan yang cepat, serta situasi kerja yang menuntut ketahanan fisik dan mental.

Di masa awal bekerja, tubuhnya bahkan sempat sering jatuh sakit karena proses adaptasi yang tidak mudah. Namun perlahan, ia belajar menyesuaikan diri dan memperkuat daya tahan. “Kalau sudah terjun ke lapangan, perempuan harus kuat dan cekatan,” katanya.

Bagi Nicha, keberhasilan kini tidak lagi sekadar soal pencapaian besar, tetapi tentang kemampuan untuk tetap bertahan di tengah kerasnya dunia kerja pertambangan. Di balik ketegaran itu, Nicha tetaplah seorang anak perempuan yang menyimpan kerinduan besar pada rumah dan ibunya.

Ada masa ketika ia ingin menyerah dan pulang kampung. Namun, ia memilih bertahan. Ia ingin membantu ibunya dari hasil kerja sendiri, tanpa membebani kedua kakaknya.

“Masih ada ibu yang harus saya bahagiakan dengan hasil keringat sendiri,” ujarnya. Keputusan itu menjadi bentuk perjuangan personal sekaligus gambaran bagaimana banyak perempuan bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi keluarga yang mereka cintai.

Dari Kegagalan Menuju Titik Balik

Perjalanan Nicha menuju IWIP justru bermula dari sebuah kekecewaan. Ia sempat terpuruk setelah gagal lolos Confucius Institute Scholarship (CIS), program pelatihan Bahasa Mandarin selama satu tahun di Tiongkok. “Saat itu saya sangat down, insecure dan banyak menyalahkan diri sendiri sehingga dampaknya cukup berat secara psikis,” kenangnya.

Lingkungan pertemanan yang kompetitif membuat tekanan itu semakin terasa. Suatu hari, Kesempatan datang ketika seorang rekannya menawarkan program magang di IWIP melalui kerja sama kampusnya, Universitas Brawijaya. Tanpa rencana besar, ia pun mencoba kesempatan tersebut.

Selama empat bulan magang, Nicha justru menemukan sesuatu yang tidak ia duga: ketenangan. Jauh dari tekanan perbandingan pencapaian yang dulu sering ia rasakan.

“Di sini saya merasa lebih tenang. Orang-orangnya friendly, saya mulai enjoy dan perlahan menemukan jati diri,” ujarnya.

Bangkit dan Menjadi Versi Diri yang Lebih Kuat

Selama magang di Departemen Human Resource and Development (HRD), Nicha mempelajari banyak hal baru. Mulai dari pengembangan karyawan, fungsi berbagai departemen, hingga pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung operasional tambang yang aman dan produktif.

Kemampuan Bahasa Mandarinnya juga semakin berkembang, terutama dalam kosakata teknis industri pertambangan. Ia pun mulai membagikan aktivitasnya melalui media sosial.

Tanpa disangka, teman-temannya melihat perubahan besar. Ia tampak lebih bahagia dan percaya diri. Sepulang dari magang, Nicha fokus meningkatkan kemampuan Bahasa Mandarin dengan mengikuti ujian Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) sambil menyelesaikan skripsinya hingga lulus dari Program Studi Sastra Cina.

“Alhamdulillah setelah wisuda saya kembali melamar di IWIP, sementara dua teman saya memilih jalan lain,” katanya. Kini, perjalanan yang dahulu diawali dari kekecewaan justru menjadi ruang untuk terus bertumbuh.

Rekomendasi Berita