Tradisi Ziarah Kubur Menyambut Ramadan di Ternate

  • 14 Feb 2026 17:22 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – SUARA musik kasidah dari toa masjid kembali menggema di sudut-sudut Ternate, menandai geliat masyarakat yang kian memuncak menjelang bulan suci. Sejak pagi, warga bergotong-royong membersihkan masjid dan lingkungan sekitar, sapu lidi beradu dengan debu, sementara tawa ringan menembus udara yang mulai dipenuhi aroma menjelang Ramadan.

Di trotoar sekitar Pasar Higines, para penjual daun pandan atau pondak dalam sebutan lokal menata irisan daun pandan dengan rapi. Daun ini menjadi penanda tradisi turun-temurun masyarakat Maluku Utara setiap memasuki hari-hari terakhir bulan Syaban. Daun pandan yang diiris itu akan dibawa saat ziarah kubur, sebuah kebiasaan spiritual yang bertahan lintas generasi.

Para penjual daun pandan atau pondak mulai ramai berjualan di Pasar Higienis, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate Sabtu, 14 Februari 2026. (Foto: RRI/Riyan Ahmad).
Para penjual daun pandan atau pondak mulai ramai berjualan di Pasar Higienis, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate Sabtu, 14 Februari 2026. (Foto: RRI/Riyan Ahmad).

Menjelang Ramadan 2026, keramaian semakin terasa. Salah satu lokasi yang selalu dibanjiri peziarah adalah Perkuburan Islam Makassar Barat, Kota Ternate. Tidak hanya pasar yang ramai oleh penjual pandan, area pemakaman ini pun dipenuhi pedagang yang menawarkan dedaunan wangi dan perlengkapan ziarah lainnya.

Memasuki pekuburan, aroma pandan menyeruak tajam harum khas yang seakan memanggil kenangan dan doa. Lalu-lalang masyarakat bertaut, menciptakan suasana yang hangat. Ritme tahunan yang selalu mengantar Ternate menyambut bulan suci dengan hati yang lebih teduh.

Ketua RT 04/RW 03 Makassar Barat, Aditya Mahalum Kasiyaheng, mengatakan bahwa menjelang Ramadan, kawasan pemakaman ini kerap dipadati peziarah, bahkan masyarakat dari luar kabupaten dan kota. “Setiap tahun selalu ramai. Menjelang Ramadan, jumlah peziarah membludak,” ujar Aditya, Sabtu, 14 Februari 2026.

Ziarah sebagai Jejak Budaya

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Hudan Irsyadi, menjelaskan bahwa tradisi ziarah kubur di Ternate telah lama berkembang. Pada masa lalu, praktik ini merupakan hasil perjumpaan antara kepercayaan lokal dan Agama Islam berakar kuat di wilayah Ternate.

“Ziarah kubur sangat berpengaruh di Ternate. Biasanya dilakukan pada akhir bulan Syaban memasuki Ramadan. Tradisi ini menjadi cara masyarakat untuk refleksi mengingat kematian,” kata Hudan.

Selain sebagai bentuk penghormatan, ziarah juga menjadi ruang interaksi keluarga. Saat berkunjung ke makam, sanak saudara saling mengenalkan kembali silsilah keluarga kepada generasi muda. “Ziarah kubur adalah mediasi untuk memperkenalkan nenek moyang yang telah lebih dulu tiada,” ujarnya.

Membersihkan rumput, menabur daun pondak, hingga bunga rampai semuanya memiliki makna tersendiri. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi pengingat lembut tentang kefanaan manusia dan pentingnya merawat ingatan atas mereka yang telah pergi.

Ziarah Kubur: Ritual Penghubung Rindu dan Doa dari Keluarga

Kepala Museum Sejarah Ternate, Rinto Taib, menyebut tradisi ziarah makam bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari denyut budaya yang diwariskan sejak dahulu hingga kini. “Tradisi ini berlangsung secara masif menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan hari-hari besar keagamaan. Momen itu dianggap istimewa, menjadi waktu keluarga mendekatkan rasa rindu dan hubungan kebatinan,” ucapnya.

Dalam prosesi ziarah, ada benda-benda sederhana namun penuh makna berupa daun pandan yang diiris halus, bunga rampai yang harum menenangkan. Properti ini seolah menjadi medium simbolis yang mengantar doa, menghubungkan antara rasa dan harapan manusia.

Namun ziarah tidak berdiri sendiri. Usai membersihkan makam dan menabur bunga, masyarakat biasanya melanjutkan dengan malam baca atau tahlilan. Tradisi ini menjadi ruang berkumpul, ruang jeda yang menyatukan ingatan akan mereka yang telah pergi. Namun tetap hidup dalam doa yang dilantunkan bersama. Di banyak tempat di Maluku Utara, malam baca menjadi kebiasaan yang selalu dinantikan.

Rinto menegaskan bahwa pembersihan makam telah menjadi ritual tahunan yang dijaga oleh keluarga maupun komunitas. Dari tahun ke tahun, kerja bakti itu bukan hanya merawat tempat peristirahatan terakhir para leluhur, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Tradisi ziarah menjelang Ramadan di Ternate bukan hanya perjalanan menuju makam melainkan perjalanan pulang ke akar diri, tempat rindu, doa, dan budaya bertemu dalam satu waktu yang selalu dianggap suci.

Rekomendasi Berita