Krisis Air dan Secercah Harapan di Selatan Timor

  • 24 Des 2025 08:22 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Bagi masyarakat urban, air tampaknya bukan suatu hal yang patut dirisaukan. Namun, di sudut selatan Timor, Nusa Tenggara Timur mendapatkan tetes demi tetes air membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Puluhan tahun masyarakat di sana berupaya bertahan hidup dengan kondisi pelik tersebut. Di tengah pahit getir dan kesulitan timbul secercah harapan dengan hadirnya rintisan usaha sosial yang berupaya menjadi bagian solusi dalam mengatasi terbatasnya ketersediaan air.
Sore telah jatuh di pesisir Selatan Timor, Sabtu (6/12/2025) pada waktu tersebut masyarakat mulai berdatangan ke satu-satunya sumber air yang ada di desa. Meski terik mentari masih terasa menyengat namun, tidak membuat surut mereka untuk menyambung hidup demi mendapatkan tetes demi tetes air.

Sesungguhnya sumber air tersebut merupakan bak penampungan yang menampung aliran air yang berasal dari dataran yang lebih tinggi. Masyarakat secara swadaya memasang pipa untuk mengalirkan 'sumber kehidupan' tersebut ke bak penampungan yang berada tepat di ujung desa.

Namun, sumber air tersebut tidak setiap waktu dapat diambil. Berlokasi di pesisir maka saban air pasang naik maka bak penampungan tersebut akan terendam.Dalam kondisi demikian, masyarakat harus rela menanti hingga aliran air tawar di bak penampungan menumpahkan keluar air laut yang terlanjur masuk.

Selain itu kerap kali pula jika pipa rusak, masyarakat kembali harus menanti, mencari serta memperbaiki biang masalah dari kerusakan tersebut.

Aryance Abanat (26), ibu rumah tangga di Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur menyampaikan kepada RRI, ia kerap membawa 105 liter air sekali perjalanan untuk memenuhi kebutuhan domestik rumahnya. “Saya empat kali dalam sehari pulang pergi untuk mengambil air dan menghabiskan satu jam lebih untuk sekali ambil air dari rumah ke sumber air,” kata Aryance, Sabtu (6/12/2025).

Aryance Abanat (26) mengisi jeriken air di bak penampungan. Tepat di sebelah kirinya merupakan bak air minum bagi hewan ternak.Foto: (RRI/Mario Panggabean)Perjuangannya untuk menyambung hidup dapat dibilang tidak mudah. Dengan waktu, jarak tempuh, dan beban fisik yang harus ia tanggung, menjadi beban ganda baginya sebagai seorang perempuan dan sebagai seorang ibu.

Selain Aryance, akses air yang terbatas dan sulit juga berdampak kepada seorang masyarakat lanjut usia di desa. Petronela Buraen (89), salah satu masyarakat desa menyampaikan sulitnya hidup karena minimnya ketersediaan air.

Menurut penuturannya, ia telah menetap di desa sejak tahun 1963 dan saat itu kondisi masih sangat sulit dan akses air sangat jauh untuk dicapai. “Tidak ada air sejak tinggal di sini, jadi dari desa harus ambil air di Oe Fao yang berjarak 6km dari desa,” ungkapnya.

Kini untuk memenuhi kebutuhan air, ia bergantung kepada cucunya. Petronela sudah tidak memiliki daya untuk menjangkau akses air yang berada di ujung desa. Meski waktu terus berlalu, Nene Nea panggilan akrabnya melihat bahwa akses untuk mendapatkan air tidak banyak berubah sejak puluhan tahun. Petronela juga mengungkap karena akses air yang sulit, ia kerap menjual hewan ternak agar dapat membeli air dan kebutuhan lain untuk menyambung hidup.

Dengan getir hidup selama puluhan tahun, ia masih berharap adanya perhatian pemerintah untuk menjawab persoalan. “Kami minta bapak Presiden, kami di sini kurang air, setengah mati mau membangun, kami minta bapak Presiden agar kami ada air di sini, kami minta bapak memikirkan kami di sini, kami harus beli air, sudah tidak ada uang lagi,” ucap Petronela. Pergulatan HidupDesa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Nusa Tenggara Timur merupakan desa pesisir yang berada di selatan Pulau Timor. Dari Kupang, desa yang berbatasan langsung dengan pesisir Samudra Hindia tersebut berjarak sekitar 130 kilometer.

Di desa yang banyak ditumbuhi pohon asam ini selama puluhan tahun masyarakat harus berdamai dengan terbatasnya akses terhadap ketersediaan air. Berkah dari hujan menjadi harapan bagi masyarakat untuk menyambung hidup dengan mengelola tanah untuk menanam.

Bagi Benjamin Teof (65), anggota masyarakat adat Timor di desa selama bertahun – tahun, hujan menjadi salah satu tumpuan baginya untuk mengelola tanah. “Di tempat ini menanti air hujan sehingga bisa menanam kalo mau ambil air harus pergi ke tempat jauh karena tempat ini merupakan tempat kekeringan,” ucapnya.

Ia berkisah dahulu para perintis desa harus mengambil air langsung di mata air dengan merintis jalan. Wadah untuk menampung air menggunakan bahan yang diambil dari alam sekitar.“Wadah air di zaman dulu diambil dari buah berbentuk bulat dan daun lontar yang dibentuk sedemikian rupa untuk jadi tempat air kemudian mereka pikul dari sumber mata air hingga ke desa,” kata Benjamin.

Pergulatan hidup atas terbatasnya akses air berdampak kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kolmalei Manimabi (40), pemuka agama di Desa Enoraen, mengungkap rentang lima tahun terakhir akhirnya masyarakat dapat memetik hasil dari menanam. Petronela Buraen (89) salah satu masyarakat lanjut usia (lansia) di Desa Enoraen. Bagi lansia sepertinya untuk mendapatkan air ia kini bergantung penuh kepada cucunya. Foto: (RRI/Mario Panggabean)

Namun, meski telah berhasil memetik hasil bumi persoalan tidak berhenti, akses ke pasar dan harga jual menjadi tantangan berikutnya. “Dari hasil komoditi baru sekitar lima tahun ini ada hasil yang baik tapi untuk menjual ke luar mengalami kendala dengan biaya angkutan yang cukup mahal dan meski pembeli yang datang langsung ke desa, mereka membeli dengan harga yang sangat murah,” ucap pendeta dari Gereja Masehi Injili di Timor Jemaat EbenHaezer Bikoen tersebut.

Perubahan Iklim dan Ketersediaan AirMerujuk jurnal ilmiah yang berjudul “Karakteristik Kekeringan Meterologis dan Pengaruh el nino – southern oscillation di Nusa Tenggara Timur” yang ditulis oleh Yosef Warat, Karlina, dan Joko Sujono dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, perubahan iklim memberi dampak yang luas kepada negara kepulauan seperti Indonesia. Khususnya memberi pengaruh terhadap curah hujan akibat pengaruh El Nino Southern Oscillation (ENSO).

Dalam konteks wilayah seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), perubahan iklim berdampak nyata. Provinsi di wilayah timur Indonesia tersebut rentan terhadap pengaruh El Nino yang berpengaruh pada keterlambatan awal musim hujan, periode hujan yang lebih pendek hingga penurunan jumlah curah hujan.

Menggunakan metode riset SPI (Standardized Precipitation Index) tim peneliti dari Departemen Sipil dan Lingkungan UGM mendapatkan temuan dalam melihat hubungan perubahan iklim dan ketersediaan air. Nilai SPI yang menurun signifikan saat periode puncak El Niño mengindikasikan adanya hubungan antara peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah dan penurunan curah hujan di NTT. Salah satu sudut Desa Enoraen.Foto: (RRI/Mario Panggabean)Tim peneliti melalui jurnal yang terpublikasi di Proceeding Civil Engineering Research Forum mendorong pentingnya pemantauan kekeringan berbasis SPI. Selain itu juga disertai dengan integrasi informasi iklim global sebagai strategi mitigasi kekeringan dan perencanaan sektor sumber daya air dan pertanian di wilayah NTT.

Selain jurnal ilmiah, dokumen strategis yang berjudul “Daftar Lokasi dan Aksi Ketahanan Iklim” yang dibuat oleh Kementerian PPN/Bappenas dan Low Carbon Development Indonesia mengangkat potensi bahaya dari perubahan iklim. Salah satunya penurunan ketersediaan air yang terproyeksi akan terjadi secara merata di Jawa dan NTT hingga tahun 2045.

Penurunan ketersediaan air secara nyata telah terjadi. Pada tahun 2024 di NTT rata-rata penurunan ketersediaan air sebesar 1.645,82m3/kapita/tahun angka tersebut jauh lebih besar dibanding Pulau Jawa yang mencapai 439,21m3/kapita/tahun. Dampak Krisis Air Krisis air bersih memiliki dampak yang patut menjadi perhatian oleh semua pihak. Krisis tersebut dapat menyebabkan anak dan balita rentang terserang berbagai penyakit.

Selain itu, dampak krisis air dapat mengganggu pertumbuhan bagi anak. Tahun 2018 angka tengkes di NTT mencapai 42,6 persen dan persoalan air bersih menjadi sebab tertinggi yang mendorong naiknya angka tengkes tersebut.

Berjalannya waktu atas intervensi dari semua pihak, prevalensi tengkes menurun yang mencapai 37,9% merujuk Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Namun, meski terjadi penurunan, angka tengkes di NTT masih melebihi rata-rata nasional dan melewati batas toleransi tengkes menurut standar WHO sebesar 20%.Kondisi rumah salah satu masyarakat di Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (7/12/2025).Foto: (RRI/Mario Panggabean)Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2022, persentase rumah tangga dengan akses air minum di NTT masih di bawah rata-rata. Persentase akses air minum masih mencapai 86,7% di bawah rata-rata nasional sebesar 91%.

Padahal akses air dan sanitasi yang layak menjadi langkah penting untuk intervensi percepatan penurunan tengkes. Hal tersebut tercantum dalam Stranas Percepatan Pencegahan Stunting 2018 – 2024 yang memiliki syarat adanya peningkatan penyediaan air bersih, air minum, dan akses sanitasi yang layak.

Hal tersebut semakin kuat berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Riset tersebut menjelaskan bahwa 60% kasus tengkes disebabkan karena krisis air bersih yang layak dan sanitasi buruk. Secercah HarapanDi balik kesulitan selalu ada secercah harap yang memberi jawab. Kuan Timor Teknologi (Kuantek) yang bermakna ‘Teknologi dari Desa Timor’ merupakan rintisan usaha berdampak sosial khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses.

Kuantek menghadirkan teknologi berbasis kebutuhan yang dapat dengan mudah digunakan oleh masyarakat desa. Rintisan tersebut selama ini melihat, teknologi dari luar yang datang di desa sulit untuk dioperasikan dan digunakan secara berkelanjutan.

Menjawab persoalan, Kuantek menciptakan sebuah produk yang dapat dapat mengubah air laut menjadi air bersih siap minum. Produk yang bernama DeSALt (Desalinasi Air Laut) tersebut bekerja dengan menggunakan panas matahari.“Pengoperasiannya sangat mudah, air laut dimasukkan kemudian dipanaskan di tengah matahari tanpa menggunakan listrik sehingga terjadinya penguapan yang kemudian dari proses tersebut mengalir air bersih siap minum, jadi sangat sederhana,” ucap Abraham Talluta, Direktur Kuan Timor Teknologi.

Ia juga menambahkan bahwa produk rintisan Kuantek telah beroperasi sejak tahun 2023 khususnya di Dusun Bikoen, Desa Enorean, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. DeSALt sendiri dapat menghasilkan 10 hingga 20 liter per hari tergantung intensitas panas matahari.

Kolmalei Manimabi (40), pemuka agama di Desa Enorean mengapresiasi hadirnya Kuantek dalam memberi solusi. Air yang dihasilkan melalui DeSALt digunakan untuk kegiatan di rumah ibadah dan konsumsi sehari-hari.“Air tersebut digunakan untuk konsumsi kegiatan di gereja dan kegiatan PPA (Pusat Pengembangan Anak) di Hari Selasa dan Kamis,” kata pemuka agama keturunan Alor dan Timor yang akrab dipanggil Bu Mei. DeSAlt (Desalinasi Air Laut) dari Kuan Timor Teknologi yang dapat mengubah air laut menjadi air bersih siap minum dengan menggunakan panas matahari.Foto: (Arsip Kuan Timor Teknologi)Sebelum Kuantek hadir, Kolmalei menuturkan bahwa telah ada bantuan yang datang ke desa dalam bentuk pembuatan sumur bor. Namun, dari 6 titik sumur bor yang ada semuanya menghasilkan air asin.

Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan air minum, Kolmalei menitipkan galon kepada masyarakat yang hendak ke pasar untuk diisi air siap minum. Membeli air siap minum juga tidak mudah, membutuhkan waktu tempuh hingga 2 jam dari desa.

Sehingga ia bersyukur dengan hadirnya Kuantek dapat membantu meringankan pemenuhan kebutuhan air minum. “Program Kuantek sangat membantu kami, memberi secercah harapan,” ucap pendeta jemaat Ebenhaezer Bikoen, Gereja Masehi Injili di Timor tersebut.

Direktur Program Kerjasama Australia-Indonesia yang Mendukung Pertumbuhan Ekonomi dan Transisi Energi yang Adil (KINETIK), John Brownlee melihat upaya Kuantek merupakan solusi adaptasi perubahan iklim. Upaya tersebut menurut John juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, secercah harapan itu tidak lepas dari tantangan. Abraham Talluta (47) Direktur Kuantek menyadari bahwa solusi yang mereka hadirkan agar berdampak lebih besar butuh dukungan oleh banyak pihak. “Tantangan terbesar dalam pendanaan untuk upgrade agar prototipe alat lebih baik. Namun, tantangan dan kesulitan tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk menjadi bagian solusi dan berdampak bagi banyak orang yang sangat membutuhkan,” ujarnya. Beragam CaraArea Program Manager Cluster Timora, Wahana Visi Indonesia (WVI), Berwaddin Simbolon melihat tantangan struktural dalam mengatasi ketersediaan akses air. Ia melihat regulasi dan birokrasi harus menjadi perhatian.“Saat pembentukan komite air, surat keputusan di tingkat desa tidak serta merta dapat dibuat dan untuk membentuk peraturan desa memakan waktu karena harus mendapat telaah dulu dari pemerintah kabupaten,” ucapnya, Senin (22/12/2025).

Beranjak dari pengalamannya selama belasan tahun di tingkat tapak, pentingnya melakukan pemetaan potensi. Potensi tersebut seperti sumber air dan wilayah yang sangat terdampak oleh krisis air. Merujuk pengalaman WVI, pengujian kualitas air juga penting sebelum melakukan pembangunan jaringan air bersih. Kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal patut diberi tempat sebagai pengelola dan pemberi masukan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan air.

Selain itu, pentingnya beragam cara untuk mengatasi krisis air bersih. Menanam berbagai jenis pohon sebagai upaya melindungi mata air, pemetaan sumber air, hingga menampung air hujan.WVI telah memulai dengan bak penampung air hujan dengan metode tanam dengan biaya murah. Sehingga dengan metode tersebut masyarakat juga dapat membuatnya sendiri.

Direktur KINETIK, John Brownlee melihat tidak ada solusi tunggal untuk mengatasi krisis air seperti di wilayah NTT. Mengedepankan beragam pendekatan merupakan keniscayaan untuk mengatasi krisis tersebut. “Diperlukan kombinasi dengan pendekatan konteks lokal, geografis, memanfaatkan energi terbarukan, inklusif terhadap perempuan dan kelompok rentan, serta layak secara ekonomi agar berkelanjutan,” ucap John, Rabu (23/12/2025) Harap yang TersematMaliaki Hauteas (34) menyematkan harap agar krisis air dapat teratasi. Ia memberi perhatian hadirnya akses air kepada masyarakat lanjut usia (lansia).“Perhatikanlah kami yang di sini khususnya bagi lansia agar tidak kesulitan mengambil air,” harapnya.Pendeta Kolmalei Kol Manimabi (40), pemuka agama dari Gereja Masehi Injili di Timor, Jemaat EbenHaezer Bikoen, Desa Enoraen. Sebagai pemuka agama pergulatan hidup masyarakat menjadi perhatian penting baginya. Sehingga ia dengan tangan terbuka menerima setiap kerja sama untuk memberi solusi atas persoalan desa seperti terbatasnya akses air dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.Foto: (RRI/Mario Panggabean)Kolmalei Manimabi (40) juga menyematkan harap agar pergulatan hidup masyarakat terkait air bersih dapat menjadi perhatian. Sebagai pemuka agama di desa pergulatan tersebut menjadi perhatian penting baginya.“Kami mohon kepada pemangku kepentingan agar dapat memperhatikan kami di tempat ini agar sumber mata air itu tidak lagi jauh sehingga kami bisa hidup,”ucap Kolmalei.

Rekomendasi Berita