Ketahanan UMKM Bertumpu pada Faktor Internal Pelaku Usaha
- 16 Des 2025 14:10 WIB
- Ternate
KBRN,Ternate : Dosen Universitas Khairun (Unkhair), Nurul Hodayah menegaskan, UMKM tidak semata ditentukan oleh besaran modal atau bantuan eksternal, melainkan oleh faktor internal pelaku usaha itu sendiri. Hal tersebut disampaikannya dalam kajian mengenai daya tahan UMKM di tengah tekanan ekonomi dan perubahan pasar.
Menurut Nurul, ketangguhan psikologis dan mindset wirausaha merupakan fondasi utama keberlanjutan usaha. Kemampuan pelaku UMKM bertahan dalam tekanan, mengambil keputusan di masa krisis, serta tidak mudah menyerah menjadi penentu utama apakah sebuah usaha mampu melewati masa sulit.
“Banyak UMKM yang bertahan bukan karena modalnya besar. Tetapi karena pelakunya adaptif, ulet, dan mau terus belajar,” ujar Nurul.
Ia menilai, sejumlah program bantuan pemerintah kerap tidak berkelanjutan karena mengabaikan kesiapan mental penerima. Modal diberikan kepada pelaku usaha yang secara psikologis belum siap mengelola risiko, sehingga bantuan tidak berdampak optimal terhadap penguatan usaha.
Nurul menjelaskan, UMKM yang mampu menyesuaikan produk, harga, saluran distribusi, atau menekan biaya operasional cenderung lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Adaptasi tersebut bukan reaksi sesaat, melainkan hasil dari pengalaman dan kemampuan membaca situasi.
Ia juga mengingatkan bahwa adaptasi tidak selalu berarti digitalisasi. Di banyak wilayah, khususnya daerah kepulauan, strategi adaptasi non-digital justru lebih realistis dan sesuai dengan kondisi lokal.
Dari sisi keuangan, Nurul menekankan pentingnya manajemen arus kas dan likuiditas. “Banyak UMKM kolaps bukan karena merugi, tetapi karena kehabisan uang tunai,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi sumber pendapatan. Ketergantungan pada satu produk atau satu pasar membuat UMKM sangat rentan.
Dalam kajiannya, Nurul turut menekankan peran akses informasi dan teknologi. Informasi mengenai harga, tren pasar, dan kebijakan pemerintah sangat memengaruhi keputusan usaha.
Terkait teknologi, ia mengingatkan bahwa literasi digital menjadi kunci. Pemanfaatan teknologi hanya akan efektif jika sesuai kebutuhan.
Sementara itu, dari sisi kebijakan, Nurul menilai dukungan kelembagaan tetap diperlukan, asalkan disesuaikan dengan konteks lokal. Kebijakan yang seragam tanpa mempertimbangkan karakter wilayah justru berpotensi melemahkan UMKM.
“UMKM sering disalahkan karena dianggap tidak naik kelas. Padahal sistem pendukungnya sendiri belum sepenuhnya ramah,” katanya.