Pemko Tanjungpinang Susun Buku Sejarah Berbasis Digital
- 17 Sep 2026 08:42 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang mendorong penyusunan buku sejarah daerah sebagai upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap data dan informasi sejarah. Upaya tersebut dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Buku Sejarah Kota Tanjungpinang Tahun 2026 di Plaza Hotel, Jalan Letjen MT Haryono KM 3,5, Komplek Bintan Plaza, Tanjungpinang, Rabu, 16 September 2026.
Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengatakan sejarah tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi perlu dimaknai sebagai bagian yang dapat membentuk pemahaman generasi mendatang. Menurutnya, nilai-nilai sejarah perlu ditanamkan agar tetap dikenang dan dipahami lintas generasi.
“Sejarah ini adalah sebuah masa depan yang harus kita maknai dan tanamkan nilai-nilainya,” ujar Lis Darmansyah.
Lis menyebutkan, Tanjungpinang memiliki banyak aspek sejarah yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat, tidak hanya berkaitan dengan kawasan Pulau Penyengat. Sejarah tokoh, bangunan, perkembangan keilmuan, hingga berbagai peninggalan sejarah dinilai penting untuk didokumentasikan dan disampaikan secara lebih luas.
Ia menambahkan, penyusunan informasi sejarah juga akan diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital. Salah satunya melalui pembuatan situs web dan kode QR yang memungkinkan masyarakat maupun wisatawan mengakses informasi sejarah pada lokasi tertentu.
”Misalnya klik Penyengat, orang tahu sejarah Penyengat dan siapa tokohnya, Begitu juga Kota Piring, apa sejarahnya dan siapa tokohnya,” ucapnya.

Menurutnya, hasil FGD diharapkan dapat menghasilkan sejumlah program dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Digitalisasi informasi sejarah juga diharapkan mendukung pengembangan wisata sejarah di Tanjungpinang.
”Jangan hanya kita kenang, tetapi bagaimana sejarah ini menjadi magnet agar orang ingin tahu dan harus tahu proses sejarahnya,” tuturnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang Muhammad Nazri, mengatakan FGD tersebut menjadi bagian dari upaya menghimpun dan menyusun sejarah daerah dalam bentuk tertulis. Selama ini, sebagian informasi sejarah masih disampaikan secara lisan sehingga perlu didokumentasikan agar dapat menjadi sumber edukasi bagi generasi muda.
”Sejarah yang selama ini mungkin hanya secara lisan akan dituangkan secara tertulis sehingga dapat menjadi edukasi bagi generasi muda,” ujar Muhammad Nazri.
Nazri menjelaskan, konsep digitalisasi juga menjadi salah satu pembahasan dalam penyusunan informasi sejarah. Website nantinya diharapkan dapat mempermudah akses masyarakat dan wisatawan terhadap informasi sejarah, termasuk melalui penggunaan barcode atau kode QR.
”Bentuknya bisa ada barcode dan segala macam sebagai upaya menyebarkan informasi secara luas,” ucapnya.

Ia menegaskan, proses FGD diperlukan untuk menyatukan berbagai informasi sejarah yang akan dituangkan dalam buku maupun platform digital. Dengan demikian, informasi yang disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar sejarah yang jelas dan tidak menyimpang dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
”Dengan konsep FGD ini untuk menyatukan sejarah-sejarah kita sehingga tidak menenceng dengan sejarah yang kita inginkan,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....