Tanjungpinang Waspada Kasus Kekerasan Anak
- 14 Sep 2026 16:37 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Kota Tanjungpinang menjadi kota yang waspada kasus kekerasan pada anak. Hal tersebut karena meski menduduki kedua terbanyak kasus kekerasan anak di Kepri, namun berbanding terbalik dengan jumlah penduduknya.
Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Muda Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Yuli Munir, mengatakan berdasarkan data di tahun 2025, Kota Batam menduduki peringkat pertama terbanyak kasus kekerasan anak. Ditempat kedua Kota Tanjungpinang dan di tempat ketiga ada di Kabupaten Karimun.
Kasus kekerasan anak di Batam pada tahun 2025 sebanyak 97 kasus dan Kota Tanjungpinang sebanyak 62 kasus. Jika dilihat dari angka tersebut kasus di Tanjungpinang dua pertiga dari kasus di Batam.
“Jika di Batam banyak terjadi tentunya sesuai dengan jumlah penduduknya yang juga banyak. Namun, di Tanjungpinang penduduknya kan sedikit, ini tentunya menjadi warning bagi kita terkait kasus kekerasan anak di Kota Tanjungpinang,” ujar Yuli Munir, Senin, 14 September 2026.
Meski begitu menurutnya, banyaknya kasus kekerasan anak di kota Tanjungpinang juga diikuti dengan pelaporan kasus yang sangat baik dan banyak. Sementara di daerah lain kemungkinan jumlah pelaporannya kurang sehingga terkesan jumlahnya lebih sedikit.
Secara keseluruhan kasus kekerasan pada anak di Kepri pada tahun 2025 sekitar 352 kasus. Untuk rentang usia pada usia 13 sampai 17, atau usia remaja.
“Jadi kasus kekerasan pada anak itu, korbannya justru pada usia remaja, bukan usia dibawah 12 tahun. Pada usia tersebut kemungkinan ada pengurangan pengawasan yang dilakukan orang tua,” tuturnya.
Faktor penyebabnya, yaitu dari dalam diri anak itu sendiri, berupa pencarian jati diri atau kontrol diri yang lemah. Kemudian faktor dari lingkungan seperti keluarga, pertemanan, gawai dan tekanan akademik.
“Jadi banyak faktor penyebabnya dari dalam maupun dari luar, maka setiap kasus bisa berbeda termasuk penanganannya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....