Limbah Minyak Hitam Menjadi Tantangan Pelestarian Mangrove di Bintan
- 31 Jul 2026 15:11 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Berbagai tantangan yang dihadapi oleh Penggiat Mangrove dan ekowisata Bintan dalam menjaga kelestarian mangrove. Salah satunya yaitu limbah minyak hitam atau Sludge Oil yang setiap musim utara mencemari beberapa pesisir pantai di Bintan.
Penggiat Mangrove dan Ekowisata Kabupaten Bintan, Iwan Winarto, mengatakan ada beberapa tantangan yang dihadapi pihaknya dalam melestarikan mangrove di Bintan. Salah satu tantangan yang dihadapi yaitu limbah minyak hitam yang setiap tahunnya terus terjadi ketika musim utara yang dimulai sejak bulan April hingga Desember.
Pencemaran ini menjadi salah satu isu lingkungan yang sering terjadi setiap tahunnya. Tidak hanya mencemari pesisir tetapi dampaknya dapat merusak mangrove dan mencemari biota laut yang ada.
“Hal ini, tentunya menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi semua pihak untuk mencari solusi agar ekosistem mangrove dapat hidup dan berkembang dengan baik,” ujar Iwan Winarto, Jumat, 31Juli 2026.
Menurutnya, dampak dari pencemaran limbah minyak hitam terhadap ekosistem mangrove sangat serius . Meskipun tidak secara langsung menyebabakan kematian, pencemaran ini menggangu fungsi proteksi mangrove terhadap aliran air dari darat ke laut.
“Mangrove dikenal memiliki durasi tumbuh yang sangat lambat, sehingga pencemaran limbah minyak hitam dapat memperlambat pertumbuhannya,” tuturnya.
Limbah yang mengandung B3 tersebut dapat mengancam biota laut seperti ikan, kepiting dan sotong. Biota laut tersebut kemudian di konsumsi oleh manusia yang kemudian dapat mengancam kesehatan manusia itu sendiri.
“Oleh karena itu, sangat diharapkan pihak berwenang dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah ini untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dan keberlanjutan ekosistem pesisir,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....