Forum TBM Kepri Gandeng Mahasiswa UGM Perkuat Literasi Daerah

  • 29 Jun 2026 20:02 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kepulauan Riau (Kepri) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjajaki kerja sama untuk memperkuat budaya literasi sekaligus melestarikan budaya lokal di Kota Tanjungpinang. Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di Sekretariat Forum TBM Kepri, pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Sebanyak 29 mahasiswa KKN UGM yang bertugas di Tanjungpinang akan menjalankan program pengabdian di Kelurahan Penyengat dan Kelurahan Kampung Bugis. Melalui sinergi dengan Forum TBM Kepri, para mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, literasi, dan pelestarian budaya.

Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kepri, Harken, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas literasi menjadi langkah strategis dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan sekaligus menjaga warisan budaya daerah. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dapat memperkuat berbagai program pemberdayaan yang telah dijalankan Forum TBM.

”Kolaborasi ini untuk dapatmenghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui literasi, pendidikan, dan pelestarian budaya,” ujar Harken, Senin, 29 Juni 2026.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah program menjadi fokus pembahasan, di antaranya penyaluran buku ke berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Program itu bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas serta meningkatkan minat membaca di lingkungan masyarakat.

Selain distribusi buku, kedua pihak juga merancang kegiatan bertajuk "Dunia Cerita Kampung Bugis" yang akan menghadirkan aktivitas mendongeng, membaca nyaring (read aloud), permainan edukatif, hingga pengenalan cerita rakyat dan nilai-nilai budaya lokal kepada anak-anak. Sementara, di Pulau Penyengat, mahasiswa KKN UGM akan mendampingi anak-anak dalam menulis cerita pendek yang nantinya dihimpun dalam Antologi Cerpen Anak Pulau Penyengat sebagai dokumentasi karya sekaligus media pelestarian sejarah dan budaya daerah.

Harken menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya mendorong kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sejak usia dini. Menurutnya, literasi harus menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.

”Melalui kegiatan mendongeng, membaca nyaring, hingga penulisan cerpen, kita sedang menanam benih-benih peradaban,” ucapnya.

Harken berharap, kerja sama tersebut dapat berlanjut dalam berbagai program pengabdian lainnya. Dengan dukungan kalangan akademisi dan masyarakat, diharapkan budaya literasi semakin berkembang seiring upaya menjaga kekayaan budaya lokal di Kepri.

“Kami berharap dengan dukungan akademisi dan masyarakat, budaya literasi di Kepri semakin berkembang,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....