Pemko Tanjungpinang Perkuat Pendampingan Korban Kekerasan Anak

  • 20 Mei 2026 20:28 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Dalam dua tahun terakhir kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tanjungpinang mengalami peningkatan. Sehingga, Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang memperkuat pendampingan korban serta pembinaan karakter bagi anak-anak sebagai langkah pencegahan.

Berdasarkan data UPTD PPA Kota Tanjungpinang, pada 2024 tercatat sebanyak 80 anak menjadi korban kekerasan dan 12 anak sebagai pelaku. Angka tersebut meningkat pada 2025 menjadi 99 anak sebagai korban dan 18 anak sebagai pelaku. Lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat dari 55 kasus pada 2024 menjadi 64 kasus pada 2025.

Hingga April 2026, tercatat 32 anak menjadi korban kekerasan dan 10 anak sebagai pelaku. Sedangkan, kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 17 korban yang tengah dalam penanganan UPTD PPA Kota Tanjungpinang.

Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, mengatakan, meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena sebagian pelaku berasal dari kalangan pelajar.

“Ini yang cukup memprihatinkan, anak-anak sekolah ada yang terlibat sebagai pelaku kekerasan, sehingga menjadi PR kita bersama,” ujar Zulhidayat.

Zulhidayat menjelaskan, Pemko Tanjungpinang saat ini mulai memperkuat pembinaan karakter dan pendidikan agama di sekolah melalui program mengaji 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Berdasarkan data pemerintah daerah, masih terdapat sekitar 300 siswa SD dan 600 siswa SMP yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan saat ini tengah dipetakan untuk mendapatkan pembinaan tambahan.

”Berdasarkan data, terdapat sebanyak 300 siswa SD dan 600 siswa SMP belum bisa baca Al-Qur’an,” ucapnya.

Selain itu, Pemko Tanjungpinang juga menyiapkan program pendampingan sosial dan keagamaan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Yaitu, dengan melibatkan pegiat sosial dan masyarakat.

Zulhidayat menegaskan, petugas layanan agar dapat mengedepankan empati saat mendampingi korban kekerasan maupun tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Menurutnya, korban membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan moral.

“Korban yang datang harus dihormati dan dilayani sepenuh hati,” tuturnya.

Plt. Kepala DPPPAPM Kota Tanjungpinang, Marzul Hendri, mengatakan, saat ini mulai meningkatnya angka laporan kekerasan terhadap Perempuan dan anak. Hal ini menunjukkan mulai tumbuhnya keberanian masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti fenomena gunung es. Sekarang masyarakat mulai berani speak up,” ujar Marzul Hendri.

Mazrul menambahkan, pelatihan trauma healing dan pendampingan korban TPPO tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah kota dalam meningkatkan kapasitas petugas layanan dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan, anak, serta TPPO. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 20 hingga 21 Mei 2026 itu diikuti 69 peserta dari kalangan guru, aparat kecamatan dan kelurahan, kepolisian, Satpol PP, hingga relawan pendamping korban.

“Diharapkan melalui kegiatan ini kemampuan peserta dalam mendampingi korban secara responsif dan empatik dapat semakin diperkuat,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....