Karhutla Dominasi 131 Kasus Kebakaran Tanjungpinang Awal Tahun
- 27 Mar 2026 21:42 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tanjungpinang mencatat sebanyak 131 kasus kebakaran terjadi sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Dari jumlah tersebut, kasus kebakaran didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan kebakaran bangunan, Jumat, 27 Maret 2026.
Kepala Dinas Damkar Tanjungpinang, Juliadi Halomoan, mengatakan, pihaknya masih melakukan penghitungan total luas lahan yang terbakar selama tiga bulan terakhir. Hal ini seiring meningkatnya status kewaspadaan akibat kondisi cuaca yang cenderung kering.
”Lagi dihitung, luasannya karena sudah termasuk waspada ya,” ujar Juliadi Halomoan.
Menurutnya, musim kemarau yang disertai keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman di lapangan. Selain itu, sejumlah hidran yang tidak berfungsi turut memperparah kondisi, sehingga petugas harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh, seperti Sungai Pulai.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Damkar Tanjungpinang berharap sekitar 25 unit hidran dapat kembali difungsikan melalui koordinasi dengan pihak PDAM. Selain itu, upaya lain yang direncanakan adalah pembangunan sumur bor dan tandon air di sejumlah titik rawan kebakaran.
”Paling tidak kita harus membuat sumur bor, kemudian tandon di beberapa lokasi,” ucapnya.
Juliadi menjelaskan, alternatif sumber air menjadi penting, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan seperti Sungai Kawal. Langkah ini dinilai dapat mempercepat penanganan saat terjadi kebakaran, khususnya karhutla.
Dari sisi sarana, Damkar Tanjungpinang saat ini memiliki enam unit armada pemadam, terdiri dari dua unit berkapasitas 6 ton dan empat unit berkapasitas 3 hingga 4 ton, serta satu unit armada rescue. Namun, jumlah personel dinilai masih belum ideal.
“Idealnya satu pos itu 18 orang, sementara total anggota kita saat ini hanya 60 orang, masih kurang sekitar 12 sampai 15 personel,” tuturnya.
Juliadi mengungkapkan, bahwa sebagian besar kebakaran lahan disebabkan oleh aktivitas masyarakat, seperti membuka lahan dengan cara dibakar atau membakar sampah tanpa pengawasan. Kondisi angin yang cukup kencang turut mempercepat penyebaran api.
Adapun wilayah yang kerap terjadi kebakaran lahan antara lain Dompak, Senggarang, dan Tanjungpinang Timur. Dengan frekuensi kejadian bisa mencapai dua kali dalam setahun.
”Di Dompak, Senggarang, kemudian di Tanjungpidang Timur itu yang selalu terjadi,” katanya.
Damkar Tanjungpinang mengimbau masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok di area kering. Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila terjadi kebakaran.
”Apabila ada terjadi kebakaran, pada waktu ini, mohon diinformasikan segera ke damkar,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....