Pahami Syarat dan Rukun agar Puasa Ramadan Sah dan Bernilai Ibadah

  • 03 Mar 2026 16:29 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan tidak cukup hanya dengan menahan lapar dan dahaga, namun harus dilandasi dengan pemahaman syariat yang mendalam. Tanpa pemahaman terhadap syarat, rukun, dan hal yang membatalkannya, dikhawatirkan puasa seorang Muslim hanya menjadi aktivitas fisik tanpa nilai ibadah yang sah.

Ustaz Nanang Rohendi, menjelaskan bahwa terdapat tiga syarat wajib bagi seseorang untuk menjalankan puasa, yakni beragama Islam, telah baligh, dan memiliki akal yang sehat. Ketentuan ini menjadi fondasi utama sehingga seseorang disebut mukalaf atau orang yang sudah terbebani kewajiban hukum agama.

“Syarat pertama adalah Islam, kemudian baligh yang ditandai dengan cukup umur atau mimpi basah dan haid, serta yang ketiga adalah berakal atau tidak dalam kondisi gila,” ujar Ustaz Nanang, dalam program Kawan Celoteh Spesial Ramadan di Pro 4 RRI Tanjungpinang, Senin, 2 Maret 2026.

Selain syarat wajib, ia menekankan pentingnya niat sebagai rukun pertama dalam berpuasa yang harus dilakukan pada malam hari sebelum waktu imsak tiba. Tanpa adanya niat yang tulus dan waktu yang tepat, maka puasa seseorang dianggap tidak sah karena niat adalah pembeda antara ibadah dan kebiasaan menahan lapar biasa.

“Untuk mengantisipasi lupa niat karena tertidur atau kesiangan sahur, umat Islam diperbolehkan mengikuti ijtihad ulama untuk menjamak niat puasa selama satu bulan penuh di malam pertama Ramadan,” katanya.

Lebih lanjut, Ustaz Nanang, memaparkan beberapa hal yang dapat menggugurkan sahnya puasa secara mendadak, seperti, murtad, datangnya haid atau nifas bagi perempuan, hingga hilangnya kesadaran akibat gila. Kondisi fisik dan mental yang tidak stabil atau keluarnya darah haid secara otomatis menghentikan status ibadah puasa seseorang pada hari tersebut.

"Hal yang membatalkan puasa itu ada lima, di antaranya murtad, haid, nifas, gila walaupun sebentar, serta mengalami ayan atau mabuk perjalanan yang berat sepanjang hari," tuturnya.

Menutup penjelasannya, Waka 1 Persatuan Guru NU Kepulauan Riau ini mengingatkan agar menjaga kualitas puasa dengan mengendalikan lisan dan hati dari perbuatan tercela. Puasa yang sempurna adalah yang mampu menyinergikan kekuatan fisik dalam menahan nafsu serta kesucian batin dalam mengharap ridha Allah SWT.

“Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus saja tanpa pahala karena tidak mampu menjaga hati dan lisan selama berpuasa," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....