Jaadikan Ramadan Sebagai Madrasah Kesabaran tanpa Tepi

  • 24 Feb 2026 17:31 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Bulan Ramadan bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah besar untuk melatih kesabaran umat Muslim. Melalui ibadah puasa, setiap individu dididik mengelola emosi dan keinginan guna membentuk karakter yang lebih kuat.

Ustazah Laila, menjelaskan Ramadan sering disebut sebagai Syahrus Sabar atau bulan kesabaran. Menurutnya, kesabaran dalam berpuasa terbagi menjadi tiga jenis, yakni sabar dalam ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta menerima takdir Allah SWT.

“Ramadan adalah program belajar kita untuk melatih diri agar sabar. Karena puasa itu sendiri, menurut Rasulullah, adalah separuh dari kesabaran,” ujar Ustazah Laila, dalam Kawan Celoteh Spesial Ramadan di Pro 4 RRI Tanjungpinang, Senin, 23 Februari 2026.

Selain melatih fisik, puasa mendidik jiwa untuk mampu menunda kepuasan (delay gratification). Latihan ini sangat penting di era serba instan, karena puasa mendidik disiplin menahan diri meskipun hal yang diinginkan tersedia di depan mata namun belum waktunya dinikmati.

“Kita dilatih untuk menunda, meskipun makanan itu halal dan ada di depan kita. Jiwa kita dilatih untuk patuh pada waktu yang telah ditetapkan Allah SWT,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya mengelola amarah selama berpuasa. Ramadan melatih seseorang tetap tenang meski dalam kondisi tubuh lemah atau saat menghadapi persoalan hidup yang berat.

Karakter pengendalian diri ini diharapkan tetap melekat kuat bahkan setelah Ramadan berakhir. Hal ini menjadi bukti keberhasilan ibadah puasa dalam membentuk pribadi yang lebih stabil dan bijaksana dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari.

“Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, yang hanya mendapatkan lapar dan haus saja karena tidak mampu menahan lisan dan emosi kita selama berpuasa,” tutur Ustazah Laila.

Menutup tausiahnya, ia mengingatkan bahwa kesabaran sejati adalah kualitas jiwa yang tidak memiliki batas. Jika nilai sabar, empati, dan kejujuran dipraktikkan konsisten selama sebulan penuh, maka hal itu akan menjadi integritas permanen dalam diri seorang muslim.

“Jika syukur itu tanpa tapi, maka sabar itu tanpa tepi. Keluar dari madrasah Ramadan, kita harus menjadi pribadi yang lebih tenang dan memiliki fokus hidup yang lebih jernih,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....