Kenduri, Melestarikan Tradisi Menjaga Kebersamaan
- 12 Feb 2026 10:06 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Kenduri adalah tradisi berkumpul dan makan bersama yang biasanya disertai doa sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keselamatan, atau peringatan suatu peristiwa tertentu. Tradisi ini banyak ditemukan dalam budaya masyarakat Indonesia, terutama di pulau Jawa, Sumatra, dan beberapa daerah lain, meskipun nama dan bentuknya bisa berbeda-beda.
Kenduri biasanya dilaksanakan untuk berbagai keperluan, seperti Menyambut bulan Suci Ramadan, syukuran kelahiran atau pernikahan, memperingati hari besar keagamaan, doa untuk orang yang telah meninggal dunia, syukuran panen atau pindah rumah. Menjelang datangnya bulan Suci Ramadhan sebagai bentuk rasa syukur kegiatan ini biasanya dilaksanakan di masjid, musholla atau rumah warga.
Dalam kebersamaan tersebut, doa-doa dipanjatkan agar diberi kesehatan, kekuatan, dan kelapangan hati untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Suasana hening saat doa dibacakan terasa menenangkan, seolah menjadi awal yang khusyuk untuk perjalanan spiritual yang akan dilewati.
Setelah doa selesai, hidangan sederhana tersaji di atas tikar, berupa nasi, lauk pauk, serta kue tradisional yang akan dinikmati bersama sambil bercengkerama. Tawa kecil dan obrolan ringan mengalir, mempererat tali silaturahim antar warga.
Bagi anak-anak, kenduri adalah pengalaman yang sangat membekas, disana mereka belajar tentang arti berbagi, kebersamaan, dan pentingnya menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. Kenduri jelang puasa bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan simbol persatuan dan rasa syukur.
Di tengah perubahan zaman, kebiasaan ini tetap menjadi pengingat bahwa Ramadan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat hubungan dengan sesama. Melalui kenduri, masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh harap dan kebersamaan, menata niat, serta membuka lembaran baru dengan hati yang lebih tenang dan penuh keikhlasan.
Sebuah peristiwa sederhana yang sarat makna, ia menjadi jembatan antara hari-hari biasa dan bulan yang suci, antara rutinitas dunia dan panggilan jiwa untuk kembali bersih. Sebelum Ramadan tiba, masyarakat lebih dulu mempersiapkan hati dan membersihkan diri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....