Makanan Ultra-Proses dan Pengaruhnya terhadap Risiko Penyakit Kronis

  • 22 Agt 2026 08:32 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Makanan ultra-proses semakin mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan ringan, minuman manis, hingga berbagai produk siap saji. Kepraktisan, harga yang terjangkau, dan cita rasa yang menarik membuat jenis makanan ini menjadi pilihan banyak orang, meskipun konsumsinya perlu diperhatikan.

Dilansir dari The BMJ, konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed foods) yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, serta kematian akibat berbagai penyebab. Kajian terhadap sejumlah penelitian tersebut menyimpulkan, membatasi konsumsi makanan ultra-proses dapat menjadi bagian penting dari pola makan sehat.

Makanan ultra-proses merupakan produk yang melalui berbagai tahapan pengolahan industri dan umumnya mengandung tambahan bahan, seperti perisa, pewarna, pemanis, pengemulsi, maupun bahan pengawet. Produk ini berbeda dengan makanan segar atau makanan yang hanya mengalami pengolahan sederhana karena komposisinya dirancang untuk memberikan rasa, tekstur, dan tampilan yang lebih menarik.

Penelitian dalam Nature Food menunjukkan produk pangan ultra-proses umumnya dirancang agar memiliki cita rasa yang sangat menarik, praktis dikonsumsi, dan berdaya simpan lebih lama sehingga cenderung dikonsumsi secara berlebihan. Temuan ini menjelaskan karakteristik tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya konsumsi makanan ultra-proses di berbagai kelompok masyarakat.

Konsumsi jenis makanan tersebut secara berlebihan dapat mengurangi porsi makanan bergizi dalam pola makan sehari-hari. Akibatnya, tubuh berisiko memperoleh asupan gula, garam, dan lemak yang lebih tinggi, sementara kebutuhan serat, vitamin, dan mineral dari makanan segar menjadi kurang terpenuhi.

Mengurangi konsumsi produk pangan ultra-proses tidak berarti harus menghindarinya sepenuhnya. Sebaliknya, masyarakat dianjurkan lebih mengutamakan pola makan yang seimbang dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang minim pengolahan.

Selain memperhatikan jenis makanan, membiasakan membaca informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan juga dapat membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih sehat. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun pola makan yang lebih baik untuk jangka panjang.

Oleh karena itu, memahami karakteristik produk pangan ultra-proses menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan. Dengan lebih sering memilih makanan segar atau yang diolah secara minimal serta membatasi konsumsi produk pangan ultra-proses, masyarakat dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis sekaligus mendukung kualitas hidup yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....