Distorsi Kognitif dan Kesehatan Mental di Era Digital
- 04 Jun 2026 15:31 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai aktivitas dapat dilakukan melalui perangkat elektronik.
Salah satu tantangan yang sering tidak disadari adalah munculnya distorsi kognitif, yaitu pola pikir yang keliru atau tidak objektif dalam menafsirkan suatu situasi. Distorsi kognitif dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitarnya.
Mengutip dari https://pijarpsikologi.org/blog/distorsi-kognitif-ketika-cara-berpikirmu-berbahaya, Distorsi kognitif adalah kesalahan logika dalam berpikir, serta kecenderungan berpikir yang berlebihan serta tidak rasional. Apabila dibiarkan, kesalahan ini akan menjadi kebiasaan, mempengaruhi kondisi emosi kita, serta termanifestasi dalam perilaku.
Di era digital, paparan informasi yang sangat besar sering kali membuat seseorang lebih mudah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial. Akibatnya, muncul pikiran seperti "hidup saya tidak sebaik mereka" atau "saya selalu gagal dibandingkan orang lain."
Salah satu bentuk distorsi kognitif yang umum terjadi adalah berpikir hitam-putih atau all-or-nothing thinking. Seseorang cenderung melihat segala sesuatu dalam dua kategori ekstrem, yaitu berhasil atau gagal, baik atau buruk.
Misalnya, ketika unggahan di media sosial tidak mendapatkan banyak respons, seseorang dapat langsung menganggap dirinya tidak menarik atau tidak dihargai. Cara berpikir seperti ini dapat menimbulkan rasa kecewa yang berlebihan dan menurunkan kepercayaan diri.
Media sosial juga dapat memperkuat kebiasaan melakukan personalisasi, yaitu menganggap segala sesuatu berkaitan dengan diri sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang tidak mendapatkan balasan pesan dalam waktu singkat, ia mungkin langsung berpikir bahwa dirinya tidak disukai atau telah melakukan kesalahan. Padahal, ada banyak kemungkinan lain yang lebih masuk akal.
Untuk menjaga kesehatan mental di era digital, penting bagi setiap individu untuk belajar mengenali distorsi kognitif yang muncul dalam pikirannya. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang terpercaya, serta melatih rasa syukur juga dapat membantu seseorang mempertahankan perspektif yang lebih seimbang terhadap kehidupan.
Oleh karena itu, dengan memahami distorsi kognitif dan mengembangkan pola pikir yang lebih objektif, seseorang dapat memanfaatkan dunia digital secara lebih sehat. Kesadaran terhadap cara kerja pikiran menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental, sehingga seseorang tidak mudah terjebak dalam kesimpulan yang keliru di tengah derasnya arus informasi modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....