Sering Begadang? Waspadai Risiko Obesitas hingga Diabetes

  • 27 Feb 2026 09:12 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Begadang kini semakin melekat dalam gaya hidup modern. Tuntutan kerja tanpa batas, hiburan digital 24 jam, dan budaya selalu terhubung membuat banyak orang menukar waktu tidur dengan jam terjaga tambahan.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan RI, kemkes.go.id menyebutkan bahwa kurang tidur dibaca tubuh sebagai bentuk stres biologis. Kondisi ini memicu ketidakseimbangan hormon, meningkatkan peradangan, serta mengganggu sistem metabolik dan kardiovaskular.

Salah satu dampak awal begadang terlihat pada hormon pengatur lapar dan kenyang. Rasa lapar meningkat, keinginan terhadap makanan tinggi gula dan lemak menguat, sementara kontrol diri terhadap asupan makanan melemah.

Pola tersebut perlahan mendorong kenaikan berat badan. Jika berlangsung terus-menerus, risiko obesitas dan gangguan metabolik pun meningkat.

Dalam waktu bersamaan, tekanan darah tidak turun secara optimal pada malam hari. Denyut jantung tetap aktif dan sistem saraf berada dalam mode siaga lebih lama, sehingga jantung serta pembuluh darah kehilangan waktu istirahat alaminya.

Kurang tidur juga menurunkan sensitivitas insulin dalam tubuh. Akibatnya, kadar gula darah lebih mudah meningkat dan risiko diabetes tipe 2 bertambah jika kondisi ini terjadi secara kronis.

Dari sisi keselamatan dan kinerja, mengantuk meningkatkan risiko microsleep yang berbahaya saat berkendara atau bekerja. Ironisnya, produktivitas yang dibangun di atas begadang justru menurunkan kualitas kerja, menegaskan bahwa tidur bukan kemewahan, melainkan fondasi kesehatan jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....