Gaji Cukup tapi Tetap Cemas: Fenomena Financial Anxiety
- 24 Feb 2026 08:22 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang merasa pendapatannya sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Tagihan sudah dibayar, kebutuhan dasar terpenuhi, dan kadang masih bisa menikmati rekreasi. Namun yang aneh, perasaan khawatir tentang uang tetap mengganggu.
Inilah yang disebut sebagai financial anxiety atau cemas yang berlebihan mengenai keadaan keuangan, meskipun secara angka tampak stabil. Fenomena ini semakin sering dirasakan oleh generasi yang aktif bekerja di masa ketidakpastian ekonomi.
Dilansir dari plusadvisor.co.id, salah satu faktor utama kecemasan finansial adalah tekanan dari lingkungan sosial dan eksposur media digital. Media sosial menunjukkan norma hidup yang tinggi yang sering kali tidak dapat dijangkau liburan mewah, investasi besar di usia dini, hingga pencapaian keuangan yang luar biasa.
Tanpa disadari, perbandingan ini menimbulkan perasaan ketinggalan dan ketakutan akan kegagalan. Ditambah berita mengenai inflasi, lonjakan harga, dan risiko resesi, rasa aman finansial tampak tidak stabil meski keadaan pribadi sebenarnya baik-baik saja.
Aspek lain yang memperburuk kecemasan adalah minimnya rasa kendali dan perencanaan jangka panjang. Banyak orang memiliki pendapatan tetap, namun belum memiliki cadangan darurat, asuransi, atau strategi investasi yang jelas. Akibatnya, timbul kecemasan terhadap kemungkinan terburuk hilangnya pekerjaan, sakit tiba-tiba, atau kebutuhan mendesak lainnya. Pemikiran mengenai “apa yang terjadi jika…” terus berulang dan mengambil banyak energi mental.
Mengatasi kecemasan finansial tidak hanya berkaitan dengan meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan rasa perlindungan dan pengetahuan keuangan. Menyusun anggaran yang masuk akal, menyediakan cadangan dana, serta mengurangi konsumsi konten yang mengarah pada perbandingan sosial dapat menjadi langkah awal.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa kestabilan keuangan adalah proses, bukan kompetisi. Ketika memusatkan perhatian pada kebutuhan dan tujuan individu, kecemasan secara bertahap bisa bertransformasi menjadi keyakinan dalam mengatur keuangan.