Fenomena Unik Pulau Berpenduduk Mayoritas Kucing
- 29 Sep 2026 17:29 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Bagi masyarakat Jepang, kucing bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan bagian penting dari budaya lokal yang diyakini membawa keberuntungan. Hubungan unik ini melahirkan berbagai fenomena langka, mulai dari pulau kecil yang dikuasai ratusan kucing hingga pengangkatan eksekutif resmi untuk seekor kucing di stasiun kereta api.
Salah satu lokasi paling ikonik adalah Pulau Aoshima yang terletak di Prefektur Ehime, dijuluki Cat Island karena populasi kucing di sana jauh melampaui jumlah penduduk manusianya. Dengan rasio yang ekstrem, diperkirakan terdapat lebih dari 100 ekor kucing yang hidup bebas di pulau tersebut, sementara jumlah penduduk manusianya kini hanya tersisa kurang dari 10 orang.
| Baca juga: Kretek Tubuh, Iseng atau Kecanduan? |
Sejarah hadirnya kucing di Aoshima bermula ketika para nelayan lokal membawa mereka untuk mengatasi masalah hama tikus di perahu penangkap ikan. Seiring berjalannya waktu dan menurunnya populasi warga lansia di pulau tersebut, populasi kucing justru berkembang pesat dan kini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.
Tak hanya menguasai sebuah pulau, peran kucing dalam perekonomian Jepang juga terbukti nyata melalui kisah Tama, seekor kucing belang tiga (calico) di Prefektur Wakayama. Mengutip laporan BBC, pada tahun 2007, maskapai kereta api Wakayama Electric Railway resmi mengangkat Tama sebagai Kepala Stasiun di Stasiun Kishi untuk menyelamatkan jalur kereta setempat dari ancaman kebangkrutan.
Dampaknya sangat luar biasa. Kehadiran Tama yang bertugas menyapa penumpang dengan topi kecil khas petugas kereta api berhasil menarik gelombang wisatawan nasional maupun internasional. Studi dari pakar ekonomi Katsuhiro Miyamoto di Kansai University mencatat bahwa fenomena Tama menyumbang dampak ekonomi hingga 1,1 miliar Yen (sekitar Rp110 miliar) bagi daerah setempat hanya dalam waktu satu tahun.
Prestasi tersebut membawa Tama naik jabatan menjadi Executive Director di perusahaan kereta api tersebut, menjadikannya satu-satunya wanita yang menduduki posisi pimpinan di manajemen perusahaan pada saat itu. Fenomena lonjakan ekonomi berbasis ketertarikan publik pada kucing ini bahkan melahirkan istilah ekonomi khusus di Jepang yang dikenal sebagai Nekonomics (Ekonomi Kucing).
Meskipun Tama telah wafat pada tahun 2015 dan diabadikan dalam kuil Shinto kecil di stasiun tersebut, tradisi ini terus dilanjutkan oleh penerusnya, Nitama. Fenomena di Aoshima dan Stasiun Kishi menjadi bukti nyata bagaimana harmoni antara manusia dan hewan mampu memberikan nafas baru bagi pariwisata dan perekonomian daerah di Jepang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....