Fenomena Romanticizing Strugle dikalangan Generasi Muda
- 18 Jul 2026 20:24 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Fenomena romanticizing struggle semakin banyak diperbincangkan, terutama dikalangan generasi muda yang aktif menggunakan media sosial. Istilah ini merujuk pada kecenderungan memandang perjuangan, kelelahan, atau penderitaan sebagai sesuatu yang indah dan wajib dilalui untuk meraih kesuksesan.
Praktisi psikologi, Afitri Susanti, mengatakan banyak konten di media sosial menampilkan kisah bekerja tanpa henti, kurang tidur, dan mengabaikan waktu istirahat demi mengejar impian. Narasi tersebut sering kali mendapat apresiasi karena dianggap mencerminkan dedikasi yang tinggi.
“Dampaknya adalah, istirahat karena lelah itu jadi sesuatu yang salah dan akhirnya burnout,” kata Afitri, Sabtu, 18 Juli 2026.
Perjuangan memang merupakan bagian dari proses kehidupan, tetapi bukan berarti seseorang harus terus-menerus berada dalam kondisi tertekan. Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa berat tantangan yang dihadapi, melainkan juga oleh kemampuan mengelola energi serta emosi.
Bekerja keras tetap diperlukan, tetapi harus disertai dengan perhatian terhadap kebutuhan tubuh dan kesehatan mental. Hal ini karena ketika tubuh dan pikiran sudah mencapai puncaknya lalu dipaksakan, maka hasilnya justru tidak maksimal.
“Jadi istirahat itu bukan kemalasan, tapi diperlukan ketika sudah sampai waktunya,” ucapnya.
Fenomena romanticizing struggle dapat memunculkan standar yang tidak realistis dalam masyarakat khususnya generasi muda. Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan seharusnya membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik, bukan justru menguras seluruh tenaga dan kebahagiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....