Side Hustle: Peluang Finansial atau Tekanan Ganda?
- 08 Mei 2026 23:08 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Fenomena side hustle semakin marak di tengah masyarakat modern, terutama di kalangan generasi muda yang hidup dalam tekanan produktivitas tinggi. Pekerjaan sampingan kini tidak lagi dipandang sekadar pilihan, melainkan strategi untuk menambah penghasilan sekaligus mempertahankan stabilitas hidup.
Berdasarkan laporan Axios, sekitar 57 persen Gen Z memiliki side hustle atau pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama mereka. Angka tersebut menunjukkan bahwa budaya kerja sampingan semakin melekat pada generasi muda yang hidup di tengah tekanan produktivitas dan tuntutan ekonomi modern.
Side hustle pada awalnya hadir sebagai peluang positif untuk menambah pemasukan dan mengembangkan keterampilan baru. Banyak individu memanfaatkan pekerjaan tambahan sebagai ruang eksplorasi diri sekaligus jalan untuk memperluas peluang karier di luar pekerjaan utama.
Di kalangan generasi muda, side hustle bahkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas profesional. Dorongan untuk terus berkembang membuat banyak orang merasa harus selalu aktif, produktif, dan menghasilkan sesuatu setiap saat.
Budaya “selalu produktif” yang lekat dengan hustle culture turut diperkuat oleh media sosial yang dipenuhi narasi tentang pencapaian dan multiple income. Kondisi ini membuat sebagian generasi muda merasa tertinggal apabila tidak memiliki pekerjaan tambahan atau target finansial tertentu.
Namun, di balik peluang yang ditawarkan, side hustle juga menyimpan tantangan yang tidak sedikit. Waktu dan energi yang terbagi antara pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan sering kali memicu kelelahan fisik maupun mental secara perlahan.
| Baca juga: Nikah itu Butuh Cinta atau Rekening |
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa banyak pelaku side hustle memperoleh penghasilan tambahan yang relatif kecil dibandingkan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Kondisi ini menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan sampingan mampu memberikan hasil yang sebanding dengan beban yang dijalani.
Berdasarkan data Side Hustle Science, sekitar 59,7 persen pelaku side hustle menghabiskan 5 hingga 20 jam per minggu untuk pekerjaan tambahan mereka. Situasi ini berpotensi mengurangi waktu istirahat, mempersempit ruang sosial, dan meningkatkan risiko burnout jika dilakukan terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik.
Menariknya, sebagian generasi muda mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan hidup di tengah tekanan produktivitas tersebut. Mereka mulai mempertanyakan apakah bekerja tanpa henti benar-benar sebanding dengan kesehatan dan kualitas hidup yang dikorbankan.
Pada akhirnya, side hustle perlu dipahami secara bijak sebagai peluang yang tetap memiliki batas. Sebab, produktivitas yang sehat seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan hidup secara utuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....