Quiet Quitting Masuk Indonesia?
- 13 Jul 2026 14:39 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Fenomena “quiet quitting” mulai ramai dibicarakan di berbagai negara dan perlahan menarik perhatian publik di Indonesia. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika karyawan hanya bekerja sesuai tugas tanpa memberikan usaha ekstra di luar kewajibannya.
Berbeda dengan resign secara langsung, quiet quitting tidak membuat seseorang keluar dari pekerjaan, melainkan mengubah cara mereka menjalani peran di kantor. Karyawan tetap hadir dan bekerja, tetapi tidak lagi terlibat secara emosional atau berambisi lebih dalam pekerjaan.
Tren ini pertama kali populer di Amerika Serikat melalui media sosial dan didukung oleh berbagai diskusi tentang keseimbangan hidup dan kerja. Banyak pekerja mulai mempertanyakan budaya kerja yang menuntut produktivitas tinggi tanpa diimbangi kesejahteraan yang memadai.
Menurut laporan Gallup Global Workplace, hanya sekitar 23 persen karyawan di dunia yang benar-benar merasa engaged atau terlibat aktif dalam pekerjaan mereka. Sementara itu, mayoritas lainnya cenderung bekerja secara minimalis atau bahkan merasa tidak terhubung dengan pekerjaan yang dijalani.
Fenomena ini juga dipicu oleh kelelahan kerja atau burnout yang meningkat pascapandemi, terutama di kalangan pekerja muda. Banyak dari mereka mulai memprioritaskan kesehatan mental dibandingkan pencapaian karier yang terlalu ambisius.
Di Indonesia sendiri, istilah quiet quitting mungkin belum sepopuler di luar negeri, namun gejalanya mulai terlihat di berbagai sektor pekerjaan. Beberapa karyawan memilih menjaga batasan kerja yang lebih tegas dan tidak lagi “all out” seperti sebelumnya.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan mulai menyadari pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan fleksibel untuk mempertahankan karyawan. Pendekatan seperti work-life balance, jam kerja adaptif, hingga dukungan kesehatan mental menjadi semakin relevan.
Fenomena quiet quitting menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap pekerjaan di era modern. Pertanyaannya, apakah ini bentuk kemunduran etos kerja, atau justru langkah baru menuju kehidupan kerja yang lebih seimbang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....