Quiet Quitting: Tren Baru atau Alarm Dunia Kerja?

  • 06 Mei 2026 13:59 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Fenomena quiet quitting belakangan ini menjadi perbincangan hangat di dunia kerja, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini merujuk pada perubahan cara pandang pekerja terhadap batasan antara kehidupan profesional dan personal.

Dilansir dari laman Halodoc.com, quiet quitting merupakan fenomena di mana karyawan memilih untuk hanya memenuhi persyaratan minimum pekerjaannya tanpa mengambil tanggung jawab tambahan di luar deskripsi tugas. Praktik ini bukan bentuk kemalasan, melainkan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan hidup dan kerja serta melindungi kesehatan mental dari tuntutan kerja yang berlebihan.

Kemunculan quiet quitting tidak terlepas dari tekanan kerja yang semakin tinggi di berbagai sektor. Dalam banyak kasus, pekerja merasa kelelahan karena ekspektasi yang terus meningkat tanpa diimbangi penghargaan yang layak.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh budaya kerja modern, seperti hustle culture yang mengagungkan kerja tanpa henti sebagai simbol kesuksesan. Padahal, pola kerja seperti ini kerap berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental pekerja.

Selain itu, perkembangan teknologi turut memperburuk kondisi karena batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Banyak karyawan merasa harus selalu “siap” dan responsif bahkan di luar jam kerja formal.

Dalam perspektif psikologi kerja, quiet quitting dapat dipahami sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri. Sebagai respons, sebagian karyawan mulai menetapkan batasan yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan tetap profesional tanpa terlibat berlebihan di luar tanggung jawab utama.

Dengan mengurangi tekanan dan beban kerja yang tidak realistis, karyawan berusaha menjaga stabilitas emosional mereka. Hal ini juga menjadi cara untuk menghindari stres berlebih dan burnout dalam jangka panjang.

Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi kritik terselubung terhadap sistem kerja modern yang cenderung eksploitatif. Karyawan tidak lagi ingin mengorbankan kesehatan mental hanya demi memenuhi tuntutan perusahaan.

Namun, tidak sedikit pihak yang menilai bahwa quiet quitting dapat berdampak pada produktivitas dan kinerja organisasi. Minimnya inisiatif tambahan dari karyawan dapat memengaruhi semangat kerja tim serta inovasi di lingkungan kerja jika tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, perusahaan perlu merespons fenomena ini dengan bijak melalui peningkatan kesejahteraan karyawan dan penciptaan lingkungan kerja yang sehat. Pendekatan yang lebih humanis diyakini mampu menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan kebahagiaan pekerja.

Pada akhirnya, quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan refleksi dari perubahan nilai dalam dunia kerja modern. Fenomena ini juga menjadi pengingat penting bagi pekerja dan perusahaan untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat dengan menjadikan keseimbangan hidup sebagai fondasi utama produktivitas berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....