Teman Dekat, Sumber Stres Tersembunyi

  • 05 Mei 2026 11:33 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Hubungan pertemanan sering dianggap sebagai sumber kebahagiaan, namun tidak semua hubungan sosial memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Dalam beberapa kasus, kedekatan justru menjadi sumber tekanan emosional yang tidak disadari oleh individu yang mengalaminya sehari-hari.

Fenomena ini dikenal sebagai toxic friendship, yaitu hubungan pertemanan yang secara perlahan menguras energi emosional tanpa memberikan dukungan seimbang. Istilah ini semakin sering digunakan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sosial modern.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa interaksi sosial negatif memiliki dampak lebih kuat dibandingkan interaksi positif dalam memengaruhi kesejahteraan seseorang. Studi dari University of Michigan menemukan hubungan sosial yang penuh konflik dapat meningkatkan tingkat stres serta menurunkan kualitas hidup signifikan.

Teman dekat yang sering meremehkan, menuntut berlebihan, atau tidak menghargai batasan pribadi dapat memicu kelelahan emosional berkepanjangan. Kondisi ini sering tidak disadari karena hubungan tersebut dibungkus dengan kedekatan, sejarah panjang, serta rasa tidak enak untuk menjauh.

Selain itu, tekanan untuk selalu tersedia secara emosional bagi teman juga dapat menimbulkan beban mental yang tidak seimbang. Individu akhirnya merasa lelah, namun tetap bertahan karena takut kehilangan hubungan yang dianggap penting dalam kehidupannya selama ini.

Psikolog menyebut kondisi ini sebagai emotional drain, yaitu situasi ketika seseorang terus memberi tanpa mendapatkan dukungan yang setara dari hubungan tersebut. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memicu kecemasan, menurunkan kepercayaan diri, serta berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan.

Menariknya, banyak orang lebih mudah mengenali hubungan romantis yang tidak sehat dibandingkan hubungan pertemanan yang bermasalah dalam kehidupan mereka. Hal ini membuat toxic friendship sering berlangsung lebih lama tanpa disadari, karena dianggap sebagai bagian normal dari dinamika pertemanan sehari-hari.

Para ahli menyarankan pentingnya menetapkan batasan dalam hubungan sosial untuk menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima secara sehat. Menyadari bahwa tidak semua pertemanan harus dipertahankan menjadi langkah awal untuk melindungi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Kesadaran ini diharapkan dapat membantu masyarakat membangun hubungan yang lebih sehat, saling mendukung, serta memberikan dampak positif berkelanjutan. Dengan demikian, pertemanan tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga ruang aman untuk tumbuh dan berkembang bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....