Buku sebagai Ruang “Detoks Digital”

  • 16 Mei 2026 14:00 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin lekat dengan gawai dan media sosial, membaca buku kembali dipandang sebagai cara sederhana untuk mengambil jeda dari hiruk-pikuk dunia digital. Aktivitas membaca perlahan menjadi ruang tenang untuk mengistirahatkan pikiran dari arus informasi yang bergerak tanpa henti.

Dilansir dari laman Young On Top, membaca buku menjadi salah satu aktivitas yang dapat dilakukan saat menjalani digital detox karena membantu mengurangi ketergantungan terhadap layar. Membaca juga dinilai mampu melatih fokus yang perlahan menurun akibat kebiasaan mengonsumsi konten singkat dan cepat berganti.

Data We Are Social dan Meltwater dalam laporan Digital 2025 Global Overview Report menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 7 jam 22 menit per hari menggunakan internet. Kondisi tersebut membuat kebutuhan untuk mengambil jeda dari layar semakin penting dilakukan agar pikiran tidak terus-menerus dibanjiri informasi digital.

Di era saat ini, masyarakat terbiasa menerima informasi melalui video pendek, notifikasi, dan media sosial yang terus muncul setiap waktu. Kebiasaan tersebut membuat banyak orang sulit berkonsentrasi dalam waktu lama dan lebih mudah mengalami kelelahan mental.

Psikiater dr. Jiemi Adrian, menilai aktivitas membaca dapat membantu menjaga proses berpikir tetap sehat di tengah derasnya arus informasi digital yang terus bergerak cepat. Menurutnya, membaca memberi ruang bagi seseorang untuk memahami informasi secara lebih tenang dan mendalam.

Membaca buku menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan menikmati konten digital yang serba cepat. Buku mengajak pembaca untuk melambat, memahami isi secara mendalam, dan menikmati proses berpikir tanpa gangguan notifikasi.

Selain membantu meningkatkan konsentrasi, membaca buku juga dapat menjadi aktivitas reflektif yang menenangkan pikiran. Tidak sedikit orang mulai memilih membaca sebelum tidur sebagai cara mengurangi waktu penggunaan ponsel pada malam hari agar kualitas istirahat menjadi lebih baik.

Konsep membaca sebagai bagian dari digital detox juga sejalan dengan praktik biblioterapi atau terapi menggunakan bahan bacaan untuk membantu mengurangi stres dan kecemasan. Dalam kondisi tersebut, buku kembali hadir bukan hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang istirahat dari kelelahan digital.

Keberadaan perpustakaan, toko buku, hingga komunitas literasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung budaya membaca di tengah masyarakat. Ruang-ruang tersebut menghadirkan suasana yang lebih tenang dan membantu masyarakat kembali menikmati aktivitas membaca secara perlahan.

Di tengah dunia yang serba cepat, buku tetap menjadi ruang sederhana untuk menenangkan pikiran, memperluas perspektif, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Membaca bukan sekadar aktivitas mencari informasi, tetapi juga cara memberi jeda bagi pikiran agar tidak terus-menerus tenggelam dalam arus digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....