Fenomena Playing Victim yang Mengganggu Hubungan

  • 05 Mei 2026 11:21 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Dalam pertemanan, tidak semua konflik terjadi karena kesalahan satu pihak, meskipun sering terlihat seolah-olah hanya satu orang dirugikan. Ada kondisi ketika seseorang selalu menempatkan diri sebagai korban, bahkan saat ia turut berperan dalam masalah tersebut.

Fenomena ini dikenal sebagai playing victim, yaitu sikap ketika seseorang terus merasa disakiti untuk mendapatkan simpati dari lingkungan sekitarnya. Perilaku ini sering dilakukan secara tidak sadar, namun dapat berdampak besar pada kualitas hubungan sosial jangka panjang.

Orang dengan sikap ini cenderung sulit mengakui kesalahan dan lebih memilih menyalahkan orang lain dalam setiap situasi yang terjadi. Hal ini membuat konflik tidak pernah benar-benar selesai karena akar masalah tidak dihadapi secara jujur oleh pihak terkait.

Salah satu cirinya adalah selalu mengubah cerita agar terlihat sebagai pihak yang paling dirugikan dalam suatu kejadian tertentu. Cerita yang disampaikan sering menekankan penderitaan diri sendiri tanpa memberikan gambaran utuh mengenai situasi sebenarnya.

Penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa manipulasi emosional dapat merusak kepercayaan dalam hubungan sosial. Sikap playing victim termasuk bentuk manipulasi yang membuat orang lain merasa bersalah meskipun tidak sepenuhnya bertanggung jawab.

Selain itu, perilaku ini juga berkaitan dengan kebutuhan akan validasi, yaitu keinginan untuk terus mendapatkan perhatian dan pembenaran dari orang lain. Akibatnya, hubungan menjadi tidak seimbang karena satu pihak terus merasa terbebani secara emosional dalam interaksi tersebut.

Ciri lain yang sering muncul adalah sulit menerima kritik serta cenderung defensif ketika dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai harapan. Setiap masukan dapat dianggap sebagai serangan, sehingga komunikasi sehat menjadi sulit terjadi dalam hubungan pertemanan tersebut.

Psikolog menyarankan pentingnya mengenali pola ini sejak awal agar tidak terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional. Menetapkan batasan serta menjaga jarak secara sehat dapat membantu melindungi diri dari tekanan yang tidak perlu.

Komunikasi yang jelas juga diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang terus berulang dalam hubungan jangka panjang antar individu. Namun, jika pola tersebut terus terjadi, menjauh secara perlahan dapat menjadi pilihan realistis demi menjaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, pertemanan yang sehat membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, serta kemampuan untuk mengakui kesalahan masing-masing individu dalam hubungan. Tanpa hal tersebut, hubungan berisiko menjadi tidak seimbang dan menimbulkan beban emosional bagi salah satu pihak saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....