Hari Alzheimer Sedunia Jadi Momentum Lawan Stigma

  • 21 Sep 2026 21:58 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud — Hari Alzheimer Sedunia diperingati setiap 21 September sebagai momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit Alzheimer dan demensia, sekaligus mengurangi stigma terhadap orang yang hidup dengan kondisi tersebut.

Alzheimer merupakan bentuk demensia yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, komunikasi, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Alzheimer sebagai bentuk demensia paling umum dan diperkirakan berkontribusi terhadap 60 hingga 70 persen kasus demensia di dunia.

WHO mencatat sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Demensia memang lebih banyak terjadi pada usia lanjut, tetapi bukan bagian normal dari proses penuaan dan juga dapat dialami oleh orang berusia lebih muda.

Tanda awal yang perlu diperhatikan antara lain sering melupakan informasi atau kejadian baru, kehilangan barang, kebingungan di tempat yang sebenarnya dikenal, kesulitan menemukan kata, mengalami masalah dalam mengambil keputusan, hingga kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan.

Perubahan suasana hati dan perilaku juga dapat muncul. Karena itu, perubahan kemampuan mengingat atau berpikir yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian dari penuaan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Hari Alzheimer Sedunia pertama kali diperingati pada 21 September 1994 oleh Alzheimer’s Disease International (ADI) dalam konferensi tahunan di Edinburgh. Peringatan tersebut bertepatan dengan ulang tahun ke-10 organisasi itu dan kemudian berkembang menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran mengenai Alzheimer dan demensia.

ADI kemudian memperluas kampanye melalui World Alzheimer’s Month yang diperingati setiap September. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai organisasi, keluarga, tenaga kesehatan, peneliti dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan serta mengurangi kesalahpahaman mengenai demensia.

Stigma masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan demensia. Kurangnya pemahaman dapat membuat seseorang terlambat mencari bantuan atau memperoleh diagnosis dan perawatan yang dibutuhkan. Karena itu, mengenali gejala dan memberikan dukungan kepada penderita maupun keluarga menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia secara keseluruhan. Namun, berbagai bentuk perawatan dan dukungan dapat membantu mempertahankan kualitas hidup serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Penanganan juga dapat mencakup aktivitas fisik, stimulasi kognitif, keterlibatan sosial, dukungan bagi keluarga dan pengasuh, serta obat-obatan tertentu sesuai kondisi pasien.

Upaya mengurangi risiko juga dapat dilakukan sejak dini. Dalam panduan terbarunya, WHO menyebut hingga 45 persen risiko demensia berkaitan dengan faktor yang dapat dimodifikasi. Langkah yang dianjurkan antara lain aktif secara fisik, tidak merokok, menjaga pola makan, mengendalikan tekanan darah, gula darah dan kolesterol, tetap aktif secara sosial dan kognitif, menjaga kesehatan pendengaran, serta mengurangi paparan polusi udara.

Peringatan Hari Alzheimer Sedunia bukan sekadar seremoni, tetapi kesempatan untuk meningkatkan kepedulian terhadap orang yang hidup dengan Alzheimer dan demensia, termasuk keluarga serta para pengasuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....