Perang Diskon Ramadan Ancam Keuntungan UMKM
- 25 Feb 2026 12:08 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Talaud - Bulan Ramadan selalu menjadi momentum emas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia untuk meningkatkan penjualan.
Tradisi belanja masyarakat yang meningkat menjelang berbuka puasa hingga Hari Raya Idulfitri mendorong pelaku usaha untuk berlomba-lomba menawarkan promo menarik demi menarik perhatian konsumen.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, fenomena “perang diskon” justru menjadi tantangan baru bagi UMKM karena persaingan harga yang semakin ketat di pasar, baik secara offline maupun melalui platform digital.
Data Kementerian Keuangan mencatat berbagai program seperti Ramadan Fair mampu melibatkan puluhan UMKM untuk meningkatkan penjualan selama bulan suci.
Di tengah tingginya ekspektasi peningkatan konsumsi saat Ramadan, kondisi daya beli masyarakat ternyata tidak selalu stabil.
Pada Ramadan 2025 misalnya, pertumbuhan belanja masyarakat tercatat lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat tekanan ekonomi dan menipisnya tabungan rumah tangga.
Situasi ini memaksa pelaku UMKM untuk menurunkan harga produk melalui diskon besar-besaran agar tetap kompetitif di tengah permintaan yang melemah.
Akibatnya, margin keuntungan menjadi semakin tipis dan berisiko terhadap keberlanjutan usaha jika strategi harga tidak diimbangi dengan efisiensi produksi maupun inovasi produk.
Laporan riset Dr. Jan Hoesada pada makala UMKM 2025 mencatat, fenomena perang diskon juga tidak terlepas dari tantangan struktural yang dihadapi UMKM di Indonesia.
Sektor ini tercatat mencapai sekitar 66 juta unit usaha pada tahun 2023 dan berkontribusi sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Namun di tengah persaingan bisnis dan perubahan kebijakan ekonomi seperti kenaikan pajak serta penurunan daya beli kelas menengah, daya saing produk lokal menjadi semakin tertekan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi sekaligus melemahkan posisi UMKM ketika harus bersaing melalui strategi harga selama Ramadan.
Ironisnya, momentum Ramadan yang seharusnya meningkatkan penjualan justru tidak selalu berdampak positif bagi seluruh sektor usaha.
Pada tahun 2025 lalu saat menjelang Idulfitri, penjualan industri makanan dan minuman serta tekstil dilaporkan mengalami penurunan akibat melemahnya permintaan domestik.
Hal ini menunjukkan bahwa promosi harga saja tidak cukup untuk mendorong konsumsi apabila kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Tanpa strategi diferensiasi produk dan pemanfaatan teknologi digital, perang diskon berpotensi menjadi bumerang bagi pelaku UMKM dalam jangka panjang.
Dengan demikian, perang diskon selama Ramadan perlu disikapi secara bijak oleh pelaku UMKM. Alih-alih hanya berfokus pada penurunan harga, inovasi produk, peningkatan kualitas layanan, serta pemanfaatan platform digital dapat menjadi strategi alternatif untuk mempertahankan daya saing usaha.
Transformasi digital dinilai menjadi langkah penting bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.