Hadapi Orang yang Sedang Marah, Hindari Ucapan "Tenang Dulu"
- 20 Jul 2026 12:59 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Menghadapi orang yang sedang marah memang bukan perkara mudah. Respons spontan seperti mengatakan "tenang dulu" atau langsung meminta maaf sering dianggap sebagai cara tercepat untuk meredakan situasi. Namun, menurut para ahli psikologi, kedua respons tersebut justru berpotensi memperkeruh keadaan.
Mengutip dari TIME, Dr. Lokesh Shahani dari UTHealth Houston menjelaskan jika meminta seseorang yang sedang emosi untuk "tenang" sering dipersepsikan sebagai kritik, bukan bentuk kepedulian. Akibatnya, lawan bicara justru merasa tidak dipahami dan emosinya semakin meningkat.
Sebaliknya, menunjukkan kesediaan mendengarkan. Salah satu kalimat yang dinilai efektif adalah, "Bantu saya memahami apa yang terjadi dari sudut pandang Anda." Kalimat sederhana ini memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan perasaannya tanpa merasa dihakimi.
Pakar resolusi konflik Moshe Cohen menilai kemarahan sering kali hanya menjadi "permukaan". Di baliknya terdapat rasa kecewa, takut, sedih, atau merasa tidak dihargai. Karena itu, mendengarkan secara aktif menjadi langkah penting sebelum mencari solusi.
Psikolog klinis Arela Agako juga menyarankan agar seseorang memvalidasi perasaan lawan bicara tanpa membenarkan perilaku marahnya. Ucapan seperti, "Saya bisa melihat bahwa hal ini sangat penting bagi Anda," dapat membantu menurunkan ketegangan sekaligus membuat orang merasa didengar.
Selain itu, mengakui bagian kecil yang memang benar dari keluhan seseorang juga dapat membuka ruang dialog. Misalnya, ketika terlambat datang ke sebuah pertemuan, mengatakan "Anda benar, saya seharusnya memberi kabar lebih dulu," sering kali lebih efektif dibanding langsung membela diri.
Meski demikian, menjaga batasan tetap penting. Jika percakapan berubah menjadi intimidasi, ancaman, atau membuat seseorang merasa tidak aman secara fisik maupun emosional, para ahli menyarankan untuk menghentikan percakapan dan menjauh dari situasi tersebut.
Pada akhirnya, tujuan komunikasi saat menghadapi kemarahan bukanlah memenangkan perdebatan. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang agar kedua belah pihak dapat kembali berbicara dengan kepala dingin. Sikap empati, kemampuan mendengar, serta keberanian menetapkan batasan menjadi kunci agar konflik tidak berkembang menjadi pertengkaran yang lebih besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....