Malas atau Sekadar Disalahpahami? Psikolog Jelaskan Faktanya
- 30 Jun 2026 09:22 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Menyebut seseorang sebagai "pemalas" sering kali dianggap sebagai kritik yang wajar. Padahal, menurut sejumlah psikolog, label tersebut belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Di balik perilaku yang terlihat kurang produktif, bisa jadi terdapat faktor psikologis, kesehatan mental, hingga tekanan sosial yang tidak terlihat.
Mengutip dari berbagai sumber, beberapa Psikolog menyebut istilah "malas" lebih merupakan penilaian terhadap karakter seseorang daripada penjelasan atas penyebab perilakunya. Karena itu, mereka mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ini dengan sudut pandang yang lebih luas.
Malas Bukan Selalu Soal Kemauan
Alison Fragale, psikolog organisasi sekaligus profesor di UNC Kenan-Flagler Business School, mengungkapkan menyebut seseorang malas berarti menganggap sifat tersebut melekat pada kepribadiannya, dilansir dari SELF (30/3/26)
Padahal, menurutnya, hampir setiap orang tetap mengerahkan usaha untuk sesuatu yang dianggap penting. Hanya saja, bentuk usaha itu belum tentu sesuai dengan standar produktivitas yang diharapkan orang lain.
Misalnya, seseorang mampu menghabiskan waktu berjam-jam bermain gim dengan penuh fokus atau mengerjakan proyek kreatif secara serius. Namun karena aktivitas tersebut tidak menghasilkan pencapaian akademik atau karier, orang itu sering kali tetap dicap tidak memiliki ambisi.
Ada Hambatan yang Tidak Terlihat
Senada dengan itu, psikolog sosial Devon Price, penulis buku Laziness Does Not Exist, mengatakan perilaku yang dianggap malas sering kali dipengaruhi hambatan yang tidak kasatmata.
Hambatan tersebut dapat berupa depresi yang menguras energi, gangguan pemusatan perhatian atau ADHD yang memengaruhi kemampuan memulai pekerjaan, hingga kelelahan berkepanjangan (burnout) akibat tekanan kerja yang terus-menerus.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang bukan tidak ingin berusaha, melainkan kesulitan mengambil tindakan karena kondisi psikologis atau biologis yang dialaminya.
Budaya Produktivitas Membentuk Stigma
Menurut Price, stigma terhadap kemalasan juga dipengaruhi budaya yang mengaitkan nilai seseorang dengan tingkat produktivitasnya. Dalam sistem tersebut, orang dinilai berdasarkan hasil kerja yang terlihat, jam kerja, atau pencapaian yang bisa diukur.
Akibatnya, pekerjaan yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi, seperti mengurus rumah tangga, merawat keluarga, atau memberikan dukungan emosional, sering kali dianggap kurang bernilai.
Fragale menambahkan perempuan kerap menghadapi beban yang lebih berat karena selain bekerja secara profesional, mereka juga banyak menjalankan pekerjaan domestik yang sering tidak mendapat pengakuan.
Label "Malas" Justru Tidak Membantu
Memberi cap "malas" justru dapat memperburuk keadaan. Seseorang yang terus-menerus menerima label negatif cenderung merasa tidak dipahami, kehilangan motivasi, bahkan enggan mencari bantuan.
Alih-alih menghakimi, pendekatan yang lebih efektif adalah mencari tahu penyebab di balik perilaku tersebut. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan, apakah seseorang sedang mengalami tekanan, kelelahan, masalah kesehatan mental, atau kesulitan mengatur pekerjaannya.
Fokus pada Perilaku, Bukan Karakter
Menurut Fragale, ketika menghadapi rekan kerja, pasangan, atau anggota keluarga yang dinilai kurang berkontribusi, sebaiknya kritik diarahkan pada perilaku yang spesifik, bukan menyerang karakter.
Sebagai contoh, daripada mengatakan "kamu malas", akan lebih konstruktif menyampaikan, "Saya merasa kewalahan karena pekerjaan rumah lebih banyak saya kerjakan sendiri," atau "Saya melihat beberapa tenggat waktu terlewat. Apakah ada kendala yang sedang dihadapi?"
Pendekatan seperti ini dinilai lebih membuka ruang dialog sekaligus mendorong perubahan perilaku tanpa menimbulkan sikap defensif.
Memahami Sebelum Menghakimi
Pada akhirnya, para ahli mengingatkan bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda. Apa yang terlihat sebagai kemalasan belum tentu disebabkan oleh kurangnya kemauan, tetapi bisa berkaitan dengan kondisi psikologis, kesehatan, atau tekanan hidup yang tidak diketahui orang lain.
Dengan mengedepankan empati dan rasa ingin tahu, masyarakat diharapkan dapat membangun komunikasi yang lebih sehat dibandingkan sekadar memberikan label yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....