Izzatur Rusuli: Anak Kini Dibesarkan Algoritma
- 04 Jun 2026 11:12 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Perubahan besar sedang berlangsung di dalam rumah-rumah kita. Perubahan ini terjadi perlahan, nyaris tanpa disadari, namun dampaknya sangat mendasar terhadap cara anak-anak tumbuh dan belajar mengenal kehidupan.
Jika dahulu sosok yang paling banyak berbicara kepada anak adalah ayah dan ibu, kini posisi tersebut mulai bergeser. Nilai-nilai kehidupan yang dulu ditanamkan melalui percakapan keluarga, kisah-kisah teladan sebelum tidur, serta interaksi sehari-hari dengan orang tua, guru, dan lingkungan sosial, kini semakin banyak digantikan oleh layar digital yang terhubung dengan algoritma.
Setiap pagi, banyak anak memulai harinya dengan membuka telepon genggam. Saat makan, mereka ditemani berbagai tayangan digital. Menjelang tidur, layar kembali menjadi teman terakhir sebelum mereka memejamkan mata. Bahkan sebelum sempat berdialog dengan orang tuanya, seorang anak bisa menerima puluhan pesan, video, gambar, dan berbagai nilai hidup yang dikirimkan oleh sistem digital yang bekerja tanpa henti.
Menurut Izzatur Rusuli, Dosen Psikologi Pnedidikan IAIN Takengon, fenomena tersebut merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi keluarga modern saat ini. Yang paling sering berbicara kepada anak-anak hari ini bukan lagi ayah, ibu, atau guru. Dalam banyak situasi, algoritma justru menjadi pihak yang paling banyak memengaruhi cara mereka berpikir dan memandang dunia.
Sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada bidang psikologi pendidikan, parenting Islam, dan perkembangan anak, Izzatur menilai persoalan ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar tingginya durasi penggunaan gawai oleh anak.
Menurutnya, yang sedang terjadi adalah pergeseran otoritas pendidikan dari keluarga menuju teknologi. Dahulu anak bertanya kepada orang tuanya ketika ingin mengetahui sesuatu. Kini mereka lebih sering bertanya kepada mesin pencari. Dahulu anak belajar berbicara dari ayah dan ibunya. Kini mereka banyak meniru gaya komunikasi para kreator konten di media sosial. Bahkan tokoh yang mereka kagumi sering kali dipilihkan oleh algoritma berdasarkan kebiasaan menonton yang terekam dalam platform digital.
Meski demikian, Izzatur menegaskan bahwa teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi. Kehadiran teknologi telah membuka akses ilmu pengetahuan yang sangat luas bagi generasi muda. Anak-anak dapat mempelajari berbagai bidang ilmu, mulai dari bahasa asing, sains, matematika, hingga ilmu agama hanya melalui perangkat yang berada di genggaman mereka.
Namun, menurutnya, persoalan utama terletak pada tujuan dari algoritma itu sendiri. Algoritma tidak dirancang untuk mendidik anak. Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Tujuannya bukan membentuk karakter, melainkan membuat pengguna terus berada di depan layar.
Perbedaan inilah yang membuat peran orang tua tidak dapat digantikan oleh teknologi. Orang tua menginginkan anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu mengendalikan diri. Sebaliknya, algoritma bekerja berdasarkan keterlibatan pengguna dan durasi konsumsi konten.
Akibatnya, berbagai perubahan perilaku mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam waktu yang lama, cepat bosan membaca, kurang tertarik pada proses yang membutuhkan kesabaran, dan lebih menyukai hasil yang instan.
Dalam perspektif psikologi, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan budaya instant gratification, yakni kecenderungan untuk memperoleh kepuasan secara cepat tanpa melalui proses yang panjang.
Padahal, hampir seluruh pencapaian penting dalam kehidupan memerlukan kesabaran dan konsistensi. Belajar membutuhkan ketekunan. Ibadah membutuhkan kedisiplinan. Membangun karakter memerlukan waktu yang tidak singkat.
Ketika anak terlalu sering terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat, mereka berisiko kehilangan kemampuan menikmati proses. Padahal proses adalah bagian penting dalam pembentukan kepribadian yang matang. Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pengaruh algoritma tidak berhenti pada perilaku. Algoritma juga berperan dalam membentuk cara pandang anak terhadap dunia.
Konten yang terus muncul di layar secara perlahan memengaruhi persepsi mereka tentang kesuksesan, kebahagiaan, gaya hidup, hingga standar kehidupan yang dianggap normal.
Jika setiap hari anak melihat kemewahan, mereka bisa menganggap kemewahan sebagai ukuran keberhasilan. Jika yang dominan adalah konflik dan kemarahan, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Begitu pula ketika budaya pamer terus muncul dalam ruang digital mereka, nilai diri dapat diukur berdasarkan pengakuan publik semata.
Karena itu, menurut Izzatur, pertempuran terbesar pendidikan modern saat ini sesungguhnya tidak terjadi di ruang kelas maupun institusi pemerintahan, melainkan di dalam keluarga.
Pertanyaan yang perlu dijawab setiap orang tua bukan lagi apakah anak menggunakan internet atau tidak, karena hal tersebut hampir mustahil dihindari. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak-anak mereka.
"Jika anak lebih banyak belajar tentang kehidupan dari media sosial dibandingkan dari keluarganya sendiri, maka perlahan keluarga sedang kehilangan fungsi pendidikannya," ujarnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang tanpa sadar menjadikan gawai sebagai solusi instan dalam pengasuhan. Ketika anak rewel, gawai diberikan. Saat orang tua sibuk, gawai kembali menjadi pilihan. Akibatnya, perangkat digital perlahan berubah menjadi pengasuh baru yang selalu tersedia.
Padahal dalam perspektif psikologi perkembangan, kebutuhan utama anak bukanlah teknologi, melainkan keterhubungan emosional.
Anak membutuhkan percakapan. Mereka membutuhkan perhatian, pelukan, tatapan mata yang hangat, serta kehadiran orang tua yang benar-benar mendengarkan. Semua itu merupakan fondasi penting dalam perkembangan psikologis anak yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi apa pun.
Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madrasah pertama bagi kehidupan anak. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui transfer pengetahuan, tetapi juga melalui keteladanan, dialog, dan kedekatan emosional yang kuat. Nabi Ibrahim AS mendidik putranya melalui komunikasi yang penuh hikmah, sementara Rasulullah SAW membangun generasi terbaik melalui keteladanan dan hubungan yang dekat dengan para sahabatnya.
Karena itu, Izzatur mengajak para orang tua untuk tidak memusuhi teknologi, tetapi mengelolanya secara bijak. Teknologi harus tetap ditempatkan sebagai alat bantu dalam kehidupan, bukan sebagai pengganti peran pengasuhan. Anak boleh mengenal dunia digital, tetapi jangan sampai kehilangan dunia nyata. Anak boleh belajar dari teknologi, tetapi jangan sampai nilai hidupnya dibentuk sepenuhnya oleh algoritma.
Menurutnya, tantangan yang sedang dihadapi saat ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan perubahan peradaban. Oleh karena itu, keluarga harus kembali mengambil peran sentral dalam mendidik generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan spiritual.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bagi setiap orang tua bukanlah seberapa banyak harta yang akan diwariskan kepada anak-anaknya. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah siapa yang sebenarnya membesarkan mereka, ayah dan ibu, atau algoritma yang diam-diam mengambil alih ruang pengasuhan di dalam rumah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....