Jangan Sampai Bangkrut di Akhirat meski Rajin Beribadah

  • 03 Jun 2026 11:53 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon – Seseorang bisa saja datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, zakat, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Namun seluruh pahala tersebut dapat habis bahkan berujung pada siksa neraka karena selama hidupnya ia gemar menyakiti, memfitnah, menggunjing, atau mengambil hak orang lain. Inilah gambaran tentang orang yang bangkrut (muflis) sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dan menjadi tema Ceramah Subuh di Masjid Agung Ruhama Takengon yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Takengon, Rabu, 3 Juni 2026.

Dalam tausiyahnya, Ir. H. Nasarudin, MM menjelaskan bahwa kebangkrutan yang paling berbahaya bukanlah kehilangan harta benda di dunia, melainkan kehilangan pahala di akhirat akibat kezaliman terhadap sesama manusia. Rasulullah SAW menyebut orang seperti ini sebagai muflis, yaitu orang yang pada awalnya memiliki banyak amal ibadah, namun seluruh pahalanya habis untuk membayar tuntutan orang-orang yang pernah ia zalimi.

Penceramah menguraikan bahwa bentuk kezaliman tersebut tidak hanya berupa tindakan fisik atau perampasan harta, tetapi juga melalui lisan. Ghibah, fitnah, cacian, hinaan, serta ucapan yang menyakiti hati orang lain termasuk perbuatan yang dapat menyeret seseorang kepada kebangkrutan di akhirat. Bahkan, kezaliman yang dianggap kecil di dunia dapat menjadi perkara besar ketika dihadapkan pada pengadilan Allah SWT.

Pada hari pembalasan nanti, orang-orang yang pernah menjadi korban kezaliman akan menuntut haknya. Sebagai bentuk keadilan Allah SWT, pahala pelaku kezaliman akan diberikan kepada mereka yang dizalimi. Jika seluruh pahala telah habis sementara tuntutan belum selesai, maka dosa-dosa korban akan dipindahkan kepada pelaku hingga akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar bangkrut dan merugi.

Secara bahasa, istilah muflis berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang bangkrut atau tidak memiliki harta yang cukup untuk melunasi utangnya. Namun dalam ajaran Islam, makna muflis lebih luas, yakni seseorang yang kehilangan seluruh bekal kebaikannya karena tidak mampu menjaga hak-hak sesama manusia meskipun rajin beribadah kepada Allah SWT.

Penceramah juga mengaitkan materi tersebut dengan tradisi yang sering dilakukan saat pelaksanaan kewajiban terhadap jenazah. Sebelum jenazah dimakamkan, pihak keluarga biasanya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kesalahan almarhum semasa hidup. Namun menurutnya, meminta maaf ketika masih hidup jauh lebih baik dan lebih bernilai dibandingkan menunggu hingga ajal tiba.

Melalui ceramah subuh tersebut, jamaah diingatkan untuk tidak hanya memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Memperbaiki silaturahmi, menghindari ghibah dan fitnah, mengembalikan hak orang lain, serta segera meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan menjadi langkah penting agar tidak termasuk golongan orang yang bangkrut atau muflis di akhirat kelak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....