Suara Siamang di Hutan Gayo Kian Menghilang

  • 26 Mei 2026 06:48 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon - Suara khas Siamang (Symphalangus syndactylus) yang dahulu bersautan di kawasan hutan Gayo kini perlahan mulai menghilang. Kondisi ini menjadi sinyal serius terhadap tekanan yang terus terjadi pada ekosistem hutan di wilayah pegunungan Gayo dan kawasan Leuser.

Primata arboreal yang oleh masyarakat Gayo disebut “Imo” itu diketahui menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon dan kanopi hutan. Namun, kerusakan habitat akibat perambahan, pembukaan lahan, ekspansi perkebunan, hingga aktivitas ilegal di kawasan hutan membuat ruang hidup Siamang semakin menyempit.

Selain kehilangan habitat, ancaman terhadap Siamang juga datang dari perburuan dan perdagangan satwa liar yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan mengaku semakin jarang mendengar suara Siamang yang sebelumnya menjadi penanda alami hidupnya hutan Leuser.

Padahal, Siamang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Sumatera. Satwa ini berfungsi sebagai penyebar biji alami yang membantu regenerasi vegetasi liar dan menjaga keberlangsungan hutan di kawasan pegunungan Gayo.

Finance GEC-KLH Gayo, Refan Pradana, menilai isu konservasi Siamang masih sangat jarang mendapat perhatian dalam program-program perlindungan satwa liar. Menurutnya, perhatian terhadap Siamang masih kalah dibandingkan satwa besar lainnya seperti orangutan, harimau, maupun gajah Sumatra.

“Ironisnya, banyak lembaga konservasi yang jarang memasukkan isu Siamang dalam rencana pendanaan strategis mereka. Padahal Siamang merupakan indikator penting untuk melihat kesehatan hutan tropis. Ketika Siamang mulai hilang, maka hutan sedang berada dalam tekanan serius,” tegas Refan.

Sementara itu, Chairperson GEC-KLH Gayo, Zakiy, menyebut masyarakat Gayo sebenarnya memiliki kedekatan budaya dengan Siamang. Hal itu terlihat dari berbagai karya musik Gayo yang menggunakan kiasan “Taok ni Imo” atau teriakan Siamang di pegunungan sebagai bagian dari lirik lagu.

“Secara garis besar masyarakat Gayo sangat aware terhadap satwa berbulu hitam ini. Siamang bukan hanya bagian dari ekosistem, tetapi juga sudah melekat dalam budaya masyarakat,” ujarnya.

GEC-KLH Gayo menekankan perlindungan Siamang harus dilakukan melalui penguatan kawasan hutan, edukasi masyarakat, patroli konservasi, serta pelibatan generasi muda dalam menjaga koridor satwa liar, khususnya habitat Siamang.

Organisasi tersebut juga menyatakan komitmennya untuk terus mencari dukungan, baik di tingkat lokal maupun internasional, guna mendukung upaya konservasi Siamang (Symphalangus syndactylus) di Tanoh Gayo.

Tanpa langkah nyata dan dukungan berkelanjutan, suara Siamang yang selama ini menjadi penanda alami hutan Gayo dikhawatirkan hanya akan tersisa dalam cerita generasi tua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....