Analisis Implementasi Kurikulum di SMA 15 Takengon Terkhusus Peminatan PAI
- 11 Mei 2026 07:57 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Implementasi kurikulum di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan dan penyempurnaan diantarannya adalah kurikulum tiga bela, lalu pada tahun 2018 menjadi kurikulum tiga belas revisi dan pada saat Indonesia terdampak badai pandemi berubah menjadi kurikulum darurat lalu disempurnakan menjadi kurikulum merdeka belajar.
Penerapan Kurikulum Merdeka di lingkungan sekolah berbasis Islam membawa angin segar sekaligus tantangan tersendiri. Esensi dari kurikulum ini adalah fleksibilitas yang memungkinkan setiap institusi pendidikan untuk menyesuaikan materi dengan karakteristik dan kebutuhan khas sekolah masing-masing.
Kurikulum merdeka memiliki prinsip fleksible sehingga guru dapat melakukan pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik serta disesuaikan dengan konteks dan muatan lokal di samping kemampuan guru sendiri. Dalam implementasinya, sekolah membagi fokus kompetensi berdasarkan jenjang kelas untuk memastikan pemahaman yang mendalam.
| Baca juga: RS GMC dan Dukcapil Jajaki Kerjasama |
Sekolah tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga menaruh perhatian besar pada penguatan karakter religius melalui program unggulan Tahsin dan Tahfiz. Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan formula khusus yang dikenal dengan istilah strategi '5T'. Melalui pendekatan ini, siswa dibimbing secara bertahap:
Tahsin: Perbaikan kualitas bacaan.
Tahfiz: Proses menghafal Al-Qur'an.
Tafsir: Pemahaman makna ayat.
Takrir: Pengulangan hafalan agar terjaga.
Tahbid: Menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur'an.
Proses adaptasi Kurikulum Merdeka di lapangan nyatanya tidak selalu berjalan mulus, melainkan kerap berhadapan dengan berbagai hambatan yang bersifat struktural maupun personal. Secara manajerial, kendala utama seringkali muncul dari keterbatasan dukungan administratif dan kurangnya penyelarasan visi antara pimpinan sekolah dengan tenaga pendidik. Hal ini diperparah oleh tantangan internal dari sisi guru, di mana transformasi pola pikir (mindset) menjadi hambatan krusial. Guru dituntut untuk keluar dari zona nyaman metode konvensional menuju pendekatan yang lebih dinamis dan berpusat pada siswa.
Kondisi tersebut semakin kompleks dengan adanya fenomena rendahnya antusiasme serta minat siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Masalah motivasi ini menjadi alarm bagi para guru untuk meningkatkan kreativitas dalam merancang strategi pembelajaran agar materi agama tidak lagi dipandang sebagai sekumpulan hafalan yang membosankan, melainkan sebagai pedoman hidup yang aplikatif dan menarik.
Integrasi IT memberikan dampak positif berupa melek teknologi bagi siswa membantu mereka mudah mengakses berbagai materi pelajaran sebelum guru menjelaskan sebagai bahan ajar kelas sehingga diskusi dan waktu belajar memadai . namun, risiko penggunaan yang kurang bijak menjadi catatan negatif yang memerlukan pengawasan ketat agar tetap sejalan dengan nilai moral sekolah. seperti menyita handphone ketika pelajaran dimulai dan akan diberikan ketika kelas berakhir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....