Antara Pacuan Kuda dan Luka Pemulihan Bencana Aceh Tengah
- 15 Apr 2026 11:42 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Aceh Tengah kembali menjadi sorotan dengan rencana pelaksanaan event pacuan kuda, sebuah tradisi budaya yang telah lama menjadi kebanggaan daerah.
Akan tetapu di tengah semangat tersebut, muncul pertanyaan besar dari Masyarakat, apakah tepat kegiatan ini dilaksanakan saat sebagian warga masih berjuang bangkit dari bencana?
Aktivis Gayo Safri Bintang S.Pd menyampaikan di sejumlah wilayah Aceh, kondisi pemulihan belum sepenuhnya selesai. Masih ada jembatan yang terputus, memaksa warga menyeberangi sungai dengan risiko tinggi. Jalan-jalan longsor menyulitkan mobilitas, bahkan menghambat distribusi bantuan.
Sebagian masyarakat masih tinggal di hunian sementara, sementara sebagian petani menghadapi kenyataan pahit, kebun yang menjadi sumber penghasilan utama rusak atau hilang akibat longsor.
“Di sisi lain, para guru dan tenaga kesehatan tetap menjalankan tugasnya dengan penuh pengorbanan. Mereka melewati jalan berlumpur, bahkan tak jarang terjatuh demi memastikan pendidikan dan layanan kesehatan tetap berjalan. Ini adalah potret nyata perjuangan yang berlangsung setiap hari,” ujar Safri.
Ditambahkannya, dalam perspektif Islam, persoalan ini tidak hanya dilihat dari aspek kegiatan semata, tetapi juga menyangkut hati nurani dan kepekaan sosial (rahmah).
Islam mengajarkan pentingnya empati dan mendahulukan kepentingan orang banyak, khususnya mereka yang sedang dalam kesulitan. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, tidak boleh membiarkannya dalam kesulitan.
“Maka muncul pertanyaan moral, apakah pantas menghadirkan kemeriahan di saat sebagian saudara kita masih berjuang untuk bertahan hidup?,” katanya lagi.
Diakusi Safri, di sisi lain, ada juga pandangan bahwa event seperti pacuan kuda dapat menjadi momentum pemulihan ekonomi, khususnya melalui sektor UMKM. Kehadiran pengunjung berpotensi menggerakkan roda ekonomi, pedagang kecil bisa berjualan, penginapan terisi, dan aktivitas ekonomi meningkat.
“Tetapi efektivitasnya tetap perlu dikaji secara bijak, apakah masyarakat yang terdampak benar-benar bisa terlibat dalam aktivitas ekonomi tersebut, apakah manfaat ekonomi merata, atau hanya dirasakan sebagian kecil pihak dan yang terpenting, apakah momentum ini tidak melukai perasaan mereka yang masih dalam penderitaan?,” tanya Safri kepada RRI.
Dalam Islam, keseimbangan antara maslahah (kemanfaatan) dan keadilan sosial sangat ditekankan. Sebuah kegiatan dinilai baik bukan hanya dari potensi manfaatnya, tetapi juga dari dampaknya terhadap kondisi sosial masyarakat secara keseluruhan.
Safri menarik Kesimpulan bahwa pacuan kuda di Aceh Tengah bukan sekadar event budaya atau hiburan. Ia menjadi ujian kepekaan sosial dan kebijakan publik.
Jika dilaksanakan, maka harus dengan pertimbangan matang, memastikan bahwa pemulihan korban bencana tetap menjadi prioritas utama, serta benar-benar melibatkan dan memberdayakan masyarakat terdampak.
“Karena pada akhirnya, kemajuan suatu daerah bukan hanya diukur dari ramainya acara, tetapi dari seberapa kuat ia menjaga rasa kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh warganya,” kata Safri mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....