Tradisi Masyarakat Aceh Menyambut Hari Lebaran
- 12 Mar 2026 10:40 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Di Aceh, menyambut Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar menunggu hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ada banyak tradisi turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat hingga sekarang. Tradisi ini bukan hanya soal makanan atau kebiasaan, tapi juga tentang kebersamaan, rasa syukur, dan mempererat hubungan antar keluarga maupun tetangga.
Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah Meugang. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Pada momen ini masyarakat Aceh akan membeli daging—biasanya daging sapi atau kerbau—untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga. Suasana pasar biasanya jadi sangat ramai karena hampir semua orang berburu daging untuk diolah menjadi berbagai masakan khas Aceh seperti rendang Aceh, masak merah, atau gulai daging. Meugang juga menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur menyambut hari besar.
1. Membersihkan Lingkungan
Menjelang Lebaran, masyarakat Aceh juga punya kebiasaan membersihkan rumah secara menyeluruh. Mulai dari mencuci perabotan, merapikan halaman, sampai menghias rumah agar terlihat lebih rapi dan nyaman saat hari raya tiba.
Tradisi ini biasanya dilakukan bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga. Selain membuat rumah bersih, kegiatan ini juga menjadi momen kebersamaan sebelum hari raya datang. Tidak jarang juga masyarakat melakukan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, seperti masjid dan halaman kampung.
2. Memasak Kue dan Hidangan Lebaran
Selain memasak daging saat Meugang, masyarakat Aceh juga mulai menyiapkan berbagai kue dan makanan khas Lebaran. Beberapa yang paling terkenal adalah timphan, kue bhoi, dan berbagai kue kering lainnya.
Biasanya para ibu di rumah mulai membuat kue beberapa hari sebelum Lebaran. Aroma kue yang sedang dipanggang sering kali memenuhi rumah dan menjadi tanda bahwa hari raya sudah semakin dekat. Kue-kue ini nantinya disajikan untuk tamu yang datang bersilaturahmi saat Idul Fitri.
3. Tradisi Silaturahmi dan Bermaafan
Puncak dari semua tradisi tersebut adalah silaturahmi saat hari Lebaran. Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, masyarakat biasanya saling mengunjungi rumah keluarga, tetangga, dan kerabat untuk saling bermaafan.
Momentum ini menjadi waktu yang sangat berharga untuk mempererat hubungan keluarga dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Suasana hangat penuh tawa, cerita, dan hidangan khas Aceh membuat Lebaran terasa begitu istimewa.
✨ Kesimpulannya, tradisi menyambut Lebaran di Aceh bukan hanya tentang persiapan makanan atau perayaan semata. Lebih dari itu, tradisi-tradisi tersebut menjadi cara masyarakat menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh.