Ramadhan di Ibu Kota: Cerita Rif'atussa'adah, Mahasiswa LPDP
- 27 Feb 2026 21:19 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID - Takengon: Ramadhan selalu menghadirkan cerita. Bagi sebagian orang, bulan suci identik dengan kebersamaan keluarga, hidangan khas kampung halaman, dan suasana masjid yang hangat. Namun bagi Rif'atussa'adah, mahasiswa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Ramadhan tahun ini dijalani dengan nuansa berbeda, sebagai perantau di ibu kota.
Dalam program KURMA (Kisah Unik Ramadhan) Pro 1 RRI Takengon, Rifatussaadah membagikan pengalamannya menjalani ibadah puasa di tengah padatnya aktivitas dan dinamika kehidupan Jakarta.
Sebagai mahasiswa penerima LPDP, Rifa dituntut untuk tetap menjaga performa akademik sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Justru sebaliknya, ia menjadikan momen ini sebagai waktu untuk melatih disiplin dan memperkuat spiritualitas.
Suasana Ramadhan di ibu kota, menurutnya, memiliki warna tersendiri. Masjid-masjid besar dipenuhi jamaah dari berbagai daerah. Kajian keislaman mudah diakses, serta menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama.
“yang uniknya Ramadhan disini ketika menjelang berbuka masyarakat sering membuat kegiatan sederhana seperti berbagi takjil atau buka bersama di masjid-masjid. Dari situ terasa sekali semangat kebersamaan, walaupun jauh dari keluarga,” tambahnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Mobilitas tinggi di Jakarta menuntut manajemen waktu yang baik. Rifa mengaku harus lebih cermat mengatur energi agar tetap fokus belajar sekaligus khusyuk beribadah.
Menariknya, Ramadhan di perantauan justru memberinya ruang refleksi yang lebih dalam. Minimnya distraksi rutinitas rumah, ia merasa lebih banyak waktu untuk merenung tentang tujuan studi dan kontribusi yang ingin diberikan untuk daerah asalnya kelak.
“Beasiswa ini bukan hanya tentang pendidikan, tapi juga amanah. Ramadhan mengingatkan saya bahwa ilmu yang saya tempuh harus membawa manfaat,” tuturnya penuh harap.
Baginya, rindu keluarga adalah bagian dari proses pendewasaan. Teknologi menjadi jembatan penghubung, panggilan video saat berbuka puasa menjadi ritual kecil yang menghangatkan hati.
Di akhir perbincangan, Rifa berpesan kepada mahasiswa lain yang tengah berjuang meraih beasiswa agar tidak menyerah pada keadaan. Menjalani Ramadhan di perantauan memang tidak mudah, tetapi di sanalah mental dan karakter ditempa.
“Ramadhan di ibu kota mengajarkan saya tentang kemandirian, keteguhan, dan arti perjuangan. Jauh dari rumah, tapi dekat dengan cita-cita,” pungkasnya.
Kisah Rifatussaadah menjadi potret bahwa Ramadhan tak hanya tentang tempat, melainkan tentang bagaimana seseorang memaknai perjalanan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, semangat belajar dan nilai-nilai spiritual tetap bisa tumbuh berdampingan, menguatkan langkah generasi muda menuju masa depan Indonesia yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....