Lonjakan Sampah di Pasar Ramadhan, Fakta yang Perlu Disadari
- 21 Feb 2026 21:01 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Ramadhan selalu menghadirkan berkah ekonomi bagi para pedagang musiman. Pasar Ramadhan yang menjamur di berbagai daerah menjadi pusat aktivitas masyarakat menjelang waktu berbuka puasa. Namun di balik semaraknya transaksi dan aneka kuliner, muncul persoalan klasik yang kerap terulang setiap tahun, yaitu lonjakan volume sampah yang signifikan.
Peningkatan jumlah pengunjung otomatis berdampak pada meningkatnya produksi sampah, terutama sampah plastik sekali pakai seperti kantong kresek, gelas minuman, sedotan, dan wadah styrofoam. Dalam satu sore saja, ratusan hingga ribuan kemasan makanan terbuang. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah tersebut dapat menumpuk dan mencemari lingkungan sekitar pasar.
Fenomena ini tidak lepas dari pola konsumsi masyarakat yang cenderung membeli dalam jumlah besar saat berbuka. Banyak pembeli tergoda aneka jajanan sehingga berakhir pada pemborosan makanan. Sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi pun turut menyumbang volume sampah organik yang meningkat drastis selama bulan suci Ramadhan.
Secara nasional, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa sampah plastik menjadi salah satu komponen terbesar dalam komposisi sampah rumah tangga. Hingga awal 2026, krisis sampah plastik memburuk dengan produksi plastik nasional diprediksi mencapai 12,4 juta ton pada 2025, meningkat 14% dari 2020. Momentum Ramadhan dan Idulfitri biasanya memicu kenaikan timbulan sampah dibandingkan hari biasa, terutama di kawasan pusat perbelanjaan dan pasar takjil.
Dampak lonjakan sampah tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Tumpukan sampah yang tidak segera diangkut dapat menjadi sarang lalat dan memicu bau tak sedap. Jika hujan turun, sampah plastik berisiko menyumbat saluran air dan menyebabkan genangan hingga banjir.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dari semua pihak. Pedagang dapat mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan, sementara pembeli dianjurkan membawa tas belanja dan wadah sendiri dari rumah. Pengelola pasar pun perlu menyediakan tempat sampah terpilah dan memastikan pengangkutan dilakukan secara rutin.
Ramadhan sejatinya menjadi momentum menahan diri dan memperkuat kepedulian sosial, termasuk terhadap lingkungan. Lonjakan sampah di Pasar Ramadhan adalah fakta yang perlu disadari bersama. Dengan langkah kecil namun konsisten, semarak berbuka puasa tetap dapat dirasakan tanpa meninggalkan beban bagi bumi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....