Tradisi Sajian Kopi di Tanah Gayo, Dari Kopi Daun Hingga Kertup

  • 07 Agt 2023 13:23 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon : Sebagai daerah penghasil kopi arabika terbaik di dunia, masyarakat yang tinggal di dataran tinggi tanah gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Propinsi Aceh ini mengenal beberapa cara olahan dalam seduhan kopi. Mulai dari kopi daun ( kopi kewe ), jeloboh, tubruk, saring hingga kertup. Berikut ini adalah penjelasan tentang cara olahan seduhan kopi atau minum kopi yang ada di masyarakat Gayo.

1. Kopi Kewe ( Kopi Daun )

Minum seduhan daun kopi atau kewe adalah cara menikmati kopi yang paling awal di lakukan oleh orang gayo. Pada saat itu tumbuhan kopi masih tumbuh liar di daerah dataran tinggi ini, dan masyarakatnya belum mengetahui jika buah kopi dapat di olah menjadi minuman. Mereka hanya memanggang daun daun kopi tersebut kemudian menyeduhnya layaknya meminum teh. Itulah sebabnya cara minum kopi seperti ini di sebut minum kewe atau kopi kewe ( daun ), ujar Bang Salman Yoga, salah seorang Antropolog dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Setelah budidaya kopi mulai di terapkan di tanah gayo pada zaman kolonial Belanda. Barulah masyarakat mengetahui cara olahan dari biji kopi hingga kemudian di buat minuman.

2. Kopi Jeloboh

Dalam tradisi masyarakat gayo, setiap orang yang datang bertamu pasti akan di suguhi minuman kopi. Karena itu setiap rumah harus mempunyai stok kopi. Jika ada sebuah pekerjaan besar, maka kopi adalah minuman untuk pelepas lelah. Ada istilah dalam masyarakat gayo “ kul ni buet, gere be kopi “ yang artinya pekerjaan sebesar ini tidak ada minum kopi. Ungkapan ini terdengar seperti bercanda, akan tetapi ini adalah sindiran halus bagi tuan rumah untuk segera menyediakan kopi dan kudapan. Untuk acara acara besar seperti ini cara meracik kopi terbilang khusus. Bubuk kopi dan gula dimasukkan ke dalam wadah yang cukup besar kemudian di taruh di atas tungku dan dibiarkan panas terus menerus selama kegiatan atau acara berlangsung, agar kopi yang terhidang selalu dalam keadaan panas. Tradisi sajian kopi ini di sebut Jeloboh.

3. Kopi Kertup

Ada satu lagi cara sajian kopi di masyarakat gayo yang terbilang cukup unik. Hal ini bermula pada saat masa perjuangan kemerdekaan dahulu. Kala itu para pejuang gayo menciptakan cara lain untuk menikmati kopi. Mereka selalu membawa bekal kopi yang telah di sangrai beserta gula aren selama bergerilya di hutan. Sebagai bahan perbekalan, kopi dan gula aren ini terbilang tahan dalam waktu yang lama, bahkan sampai enam bulan. Kopi tersebut biasanya di nikmati tanpa seduhan. Biji kopi yang telah di sangrai tersebut di kunyah begitu saja beserta gula aren. Nah, bunyi “ kemeretup “ yang timbul dari kunyahan kopi dan gula aren tersebutlah memberikan nama sajian kopi tanpa seduhan ini dengan istilah Kopi Kertup, ungkap Aman Dian, pemilik Galeri Kopi Indonesia, salah satu tempat minum kopi / cafe di Takengon.

Masih banyak cara lain dalam tradisi sajian menikmati minuman kopi ini yang ada di masyarakat gayo, seperti kopi tubruk, kopi sanger yang merupakan campuran kopi dengan susu serta kopi saring yang di bawa oleh para pesiar agama dan pedagang asal Timur Tengah yang juga membawa cara baru dalam teknik seduhan emas hitam ini.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan teknologi, cara sajian dan teknik seduhan kopi juga berkembang. Anak anak muda di gayo sekarang juga dapat menikmati seduhan kopi ala esspresso, capuccino, coffe latte , black coffe dan lain sebagainya yang dinikmati sesuai keinginan dan selera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....