YLKI Minta Masyarakat Waspadai Minuman Dalam Kemasan

  • 07 Sep 2024 19:12 WIB
  •  Takengon

KBRN, Jakarta : Pelaksana Sementara Ketua Harian YLKI, Indah Sukmaningsih, mengatakan minuman manis dalam kemasan mengandung gula tambahan dalam jumlah besar. Mengonsumsi produk tersebut dapat secara langsung meningkatkan kadar gula darah tanpa memberikan manfaat gizi.

“Minuman manis, seperti soda atau teh kemasan mengandung gula tambahan dalam jumlah besar, dapat langsung meningkatkan kadar gula darah tanpa memberikan manfaat gizi,” kata Indah Sukmaningsih dalam keterangan yang di rilis oleh YLKI.

Indah mengatakan minuman manis seperti soda dan teh kemasan berpotensi menyebabkan pengonsumsi menderita diabetes tipe dua dan obesitas dibandingkan dengan nasi putih. Nasi putih memiliki indeks glikemik tinggi, namun tidak mengandung gula tambahan dan masih memberikan karbohidrat sebagai sumber energi.

Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan, masyarakat disarankan mengurangi konsumsi kedua jenis makanan ini. Indah menyarankan masyarakat mengganti minuman manis dengan air putih atau teh tanpa gula.

Indah juga menyarankan masyarakat untuk mengganti nasi putih dengan karbohidrat yang lebih sehat, seperti nasi merah atau quinoa, sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit diabetes.

YLKI juga menekankan perlunya pendekatan holistik untuk menyehatkan masyarakat Indonesia, yang mencakup kebijakan fiskal seperti cukai, regulasi ketat, dan kampanye edukasi masif, terhadap minuman manis bersoda.

Menurut YLKI, pengenaan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tetap menjadi solusi efektif untuk mengubah perilaku konsumsi gula di masyarakat.

Indah mengatakan kontribusi minuman berpemanis terhadap total konsumsi gula nasional hanya 4 persen, hal ini tidak mengurangi urgensi pengendalian produk tersebut.

“Justru pengenaan cukai mendorong produsen untuk menyesuaikan kadar gula dalam produk mereka sehingga membantu mengurangi konsumsi gula berlebih dan mencegah peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) di masa depan,” kata Indah.

YLKI juga merespons peta jalan yang diusulkan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi).

Organisasi itu menyarankan pengendalian gula, garam, dan lemak (GGL) sebagai alternatif pengenaan cukai MBDK, sebagai langkah jangka panjang yang tetap harus disertai kebijakan fiskal tegas untuk menghasilkan perubahan perilaku konsumsi.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....