Upaya BKKBN Kurangi Angka Perceraian di Indonesia

  • 29 Sep 2023 20:33 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya menekan angka perceraian di Indonesia di antaranya dengan memperluas wawasan masyarakat untuk membangun keluarga berkualitas, mengingat dampak yang timbul akibat perceraian.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo menyatakan bahwa kelas orang tua hebat yang diinisiasi oleh BKKBN merupakan salah satu upaya untuk mengurangi angka perceraian di Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Hasto pada diskusi bersama media di Jakarta pada Jumat (22/9/2023) terkait kolaborasi pelayanan Keluarga Berencana (KB) dalam percepatan penurunan stunting.

"Program BKKBN ada Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan yang utama kelas orang tua hebat yang juga kita selenggarakan secara virtual, ini langkah konkret agar tidak membuat anak stres, biar kekerasan dalam rumah tangganya menurun," kata dia.

Ia menegaskan, melalui kelas orang tua hebat ini, BKKBN berupaya untuk tidak hanya membangun keluarga dari sisi raganya saja, tetapi juga dari segi jiwanya.

Ia juga menanggapi kasus perceraian yang masih tinggi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ada 2.000 pasangan yang bercerai selama satu semester di tahun 2023. "Perceraian cukup tinggi, dalam semester pertama 2023 sudah ada 2.000 yang cerai. Ini baru yang cerai, belum lagi yang keluarganya tidak harmonis, jadi ini puncak gunung esnya. Penyebab utama perceraian, 70 persen itu karena perbedaan pendapat antara suami dan istri, sepele," ujar dia.

Selain perbedaan pendapat, menurutnya, permasalahan ekonomi juga menjadi faktor yang banyak menimbulkan perceraian di Indonesia.

Ia memaparkan, judi termasuk salah satu gangguan mental dan emosional yang kerap dialami oleh generasi milenial saat ini, karena berdasarkan data yang disampaikan Hasto, saat ini setiap 9 dari 100 orang menderita gangguan mental.

Ia berpesan kepada seluruh tim pendamping keluarga yang terdiri dari para bidan, tim pendamping PKK, dan kader untuk menguatkan program revolusi mental dan pembangunan jiwa ini hingga ke tingkat RT/RW, sehingga keluarga Indonesia bisa lebih siap menghadapi persaingan global di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....